Alamat Lasut


Beuh, kenapa saya kudu ngalamin seperti Ayu Ting Ting. Eits, maaf ya, bukan ditinggal laki lagi hamil. Audzubillah yang kayak gitu, mah! Ini kali berapa lah, saya lasut hunting tempat liputan.

Padahal saya sudah diberikan daftar lokasi target liputan. Saya tinggal pilih tiga sampai empat tempat untuk diliput. Oh iya, kali ini temanya soal Garang Asem. Jangan nanya dulu apaan makanan itu, karena saya masih repot cari cadangan alamat lasut.

Lokasi pertama terbilang sukses alias ketemu. Meski repot saat bayar. Saya bayar pake kartu debit karena saya benar-benar tidak punya uang tunai saat itu. Kerepotan pertama, si pelayan bilang kalau ingin bayar pakai kartu nilai belanjaan saya minimal Rp 100.000. Sementara saat itu total belanjaan saya Rp 96.000. Saya bilang, “oke, tambah saja dengan camilan.”

Pelayan mengangguk lalu menuju meja kasir sembari membawa kartu debit saya. Tidak lama kemudian, torojol sang manajer. “Maaf Bu, bisa ke meja kasir. Kami butuh pin kartu Ibu untuk menyelesaikan transaksi.”

Sambil berjalan ke meja kasir, si manajer juga bilang, saya tak perlu menambah belanjaan. Saya tekan empat angka yang merupakan pin kartu debit saya. Eng ing eng, mesin tidak merespon. Manajer dan kasir beberapa kali mengusap keringat yang mengucur di dahinya. Stres mungkin!

Jika mesin gagal terus, dalam pikiran manajer, masak dia mesti meminta saya mencari atm. Apa kata dunia? Resto berkelas dan ternama ternyata mesin gesek kartunya rusak.

Dia stres, saya biasa saja. Saya keluarkan kartu debit lainnya. Penting diketahui, saya punya empat kartu debit yang hanya ada isinya di tanggal-tanggal tertentu, ha ha! Sim salabim, kartu kedua lancar jaya. Selamatlah reputasi resto tersebut.

Target kedua hari itu, sebuah kafe bergaya Belanda dekat rel kereta api. Sila dicari, ya! Gaya bangunannya memang kuno. Di teras-terasnya disediakan kursi dari rotan. Sayang saya enggak sempet masuk ke dalam. Duduk sekitar 5 menit sambil mengisi ulang baterai ponsel, tak juga pelayan datang. Saya sempat bingung mana pelayannya.

Ada orang berdiri di lawang pintu. Saya panggil walau was-was jika ternyata dia bukan pelayan. Batiknya itu loh, beda banget (jangan minta saya deskripsikan yah). Si pelayan menghampiri sambil membawa menu. Wajahnya judes banget! Saya pesan menu yang saya cari. Dia pun melengos pergi.

Tak lama kemudian dia kembali dengan kabar buruk. Pesanan saya kosong. Langsung pergi, tak mungkin. Saya harus memesan sesuatu. Minimal sebagai pengganti listrik yang dipakai untuk isi ulang ponsel.  Singkatnya saya memesan sesuatu dan si pelayan tambah cemberut.  Mungkin karena saya cuma pesan seharga Rp 30.000. Hei, itu bayar sewa listrik termahal loh untuk isi ulang ponsel.

Saya pikir kelasutan akan berakhir sampai di situ. Ternyata berulang pada esok harinya. Saya sengaja tidak makan demi liputan itu. Liputannya saja soal makan. Waktu sampai di lokasi, papan nama restonya saja sudah hilang. Semua pintu ditutup rolling door. Sodara-sodara, resto itu sudah tutup! Ini artinya, saya kudu hunting lagi besok. Selamat! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s