Menyongsong Anak Kedua


Besok sudah 2014. Kalau menilik 2013, hal yang paling mengagetkan, menyenangkan, dan membingungkan, ya, hamil lagi. Usia saya memang belum 35 tahun. Masih produktif untuk menghasilkan keturunan, heuheu! Tapi anak pertama saya, Kinanti Ameera Wibagja, usianya baru 10 bulan, saat si janin jadi di perut.

Saya memang sengaja tidak KB. Mungkin ada ketakutan melihat beberapa teman yang ber-KB dengan segala efeknya. Saya pun tak ada rencana menunda menambah anak. Tapi ketika hamil lagi asa rareuwas. Walau dapat ditebak, itu risiko tidak ber-KB.

Seperti hamil pertama, awalnya saya hanya mengira ini masuk angin biasa. Perut kembung, mual, dan rasa kepengin muntah tak tertahan. Saya yang tak pernah dikerik, akhirnya menyerah. Bekas kerikan warnanya merah tua, membuat saya semakin yakin itu memang masuk angin. Ditambah lagi, tiap makan, muntah.

Sempat mengira juga maag saya kambuh. Saya minum juga obat maag. Tapi, tak ada hasilnya. Suami sempat bergurau.

“Mbu, gimana kalau ternyata hamil lagi?”

“Biarin, ah. Ada bapaknya ini.”

Ternyata suami saya yang malah kepikiran. Saya pun mengingat-ingat gejala awal waktu hamil Kinan. Mirip.Apalagi, sudah dua bulan saya terlambat datang bulan.  Sepuluh hari kembung saya tak juga hilang. Suami sarankan saya beli testpack. Saya beli dan pakai. Hasilnya : positif.

Seketika, kami berdua bingung. Kinan yang saat kami tahu saya hamil lagi baru setahun usianya. Saya harus segera menyapih Kinan. Sulitkah? Beruntung, Kinan memang sudah jarang menyusu. Kalau kata orang tua, mungkin air susu ibunya sudah tidak enak. Susu muda, katanya. Setiap menyusu, pasti puting saya malah digigit.

Meski begitu, orang tua tetap menyarankan kami menjalani ritual menyapih. Kinan sampai dikalungi benang kasur dengan liontin bambu. Tujuannya, agar anteng. Mujarab? Tidak! Malah hanya sebulan kalung itu bertahan karena Kinan kerap gatal pada bagian leher.

Ritual lainnya pun tidak pernah kami jalani. Kinan pun tidak rewel. Justru rewelnya baru sekarang, saat usia kandungan masuk tujuh bulan. Terlebih, minggu lalu dia baru sakit. Pengasuhnya pun mendadak berhenti. Nanti soal ini saya cerita lain waktu.

Menghadapi kerewelan Kinan, saya dan suami malah mendapat hikmah. Kami mendapati betapa Kinan cepat mencerna banyak kata. Percakapan antara kami dan Kinan pun dua arah dan dapat dimengerti. Dan, saat kerja kami semakin kangen dengan kecerewetannya. Bahkan saya sengaja menggubah sebuah lagu untuk dinyanyikan Kinan.

Satu-satu, Kinan sayang Ambu
Dua-dua, juga sayang Abah
Tiga-tiga, sayang adik-kakak
Satu, dua, tiga, sayang semuanya

Dan Kinan sangat ingat lagu itu.

Pelajaran lain, anak itu titipan dari Tuhan. Dengan cara-Nya, menitipkan anak itu dengan rejekinya. Tuhan Maha Kuasa, menerobos teknologi penunda kehamilan.

Banyak yang ingin hamil, tidak ber-KB, tapi tak juga dikaruniai anak. Banyak pula yang ber-KB, tapi tetap hamil juga. Jadi ketika Tuhan menitipkan anak, yakinlah semua itu adalah jalan-Nya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s