Dimana ear phone-mu, Mba?


Seingat saya, di setiap kotak handheld yang baru dibeli, pasti ada earphone-nya. Namun, tidak banyak yang memanfaatkannya untuk kepentingan menelfon. Sebagian besar hanya untuk mendengar mp3.

Padahal fungsi earphone, menurut saya sih, untuk mengurangi kelelahan pada tangan yang terpaksa menanggeuy ponsel ketika menelfon lama-lama. Atau, ogah merasakan panasnya baterai yang nempel banget ke telinga.

Sering loh, saya melihat orang dengan menyalakan fitur speaker saat menelfon. Di angkot pula. Rupanya, ia memilih mengambil risiko pembicaraannya didengar orang lain daripada memakai ear phone. Atau bisa saja, ear phone miliknya tidak terbawa. Mungkin juga hilang.

Seperti ketika saya menumpang angkot Bandung-Lembang, seorang penumpang yang duduknya persis di depan saya dengan cuek menelfon dengan menyalakan speaker. Ia curhat tentang keinginannya mengontrak kamar atau rumah. Tapi bingung bagaimana cara menyampaikan niatnya itu pada sang suami. Ia khawatir suaminya akan menolak mentah-mentah keinginannya.

Lawan bicaranya lalu menanyakan alasan temannya itu. Maka bergulirlah pembicaraan tentang kelebihan mengontrak dan harga kontrakan yang jadi pertimbangan utama. Barangkali pembicaraan mereka berlangsung lebih dari sepuluh menit. Itu hitungan sejak saya naik angkot di depan Paris van Java Mall, ya! Saya tidak tahu sebelum itu.

Meskipun agak kagok dengan cara si mba ini bercakap-cakap di telfon, saya memilih jadi ‘penguping’ saja. Lumayan dapat hiburan tambahan di angkot. Ternyata, si lawan bicara pun sudah merasa lelah dengan cerita si mba yang mulai melenceng dari cerita kontrakannya itu. Si lawan bicara di sebrang lalu meminta izin mengakhiri telfon karena harus menjalankan solat magrib. Takluklah si mba dengan alasan itu. Telfon mereka pun berakhir dan si mba memilih menghabiskan waktu perjalanan dengan menggaruk-garuk kepala. Sesekali mengorek telinganya. Perhatian banget, ya, saya, he..he..!

Memang kalau dilihat budaya penggunaan ponsel sudah tak terkendalikan. Ah, analisa macam apa pula ini! Maksud saya, banyak orang yang tidak sadar caranya memakai ponsel itu sudah mengganggu orang lain. Sering saya menemukan penumpang yang sengaja mendengarkan mp3 di ponselnya tanpa headset. Sopir angkot pun sering begitu, sih, karena tidak dilengkapi tape di angkotnya.

Kebiasaan memakai ponsel yang sering mengganggu orang lain, ya, kebiasaan mengirim broadcast message. Mending isinya kalau benar. Kebanyakan isinya hanya copy paste dari broadcast sebelumnya tanpa cek dan ricek. Mulai dari pesan RIM hingga kabar orang hilang. Kasian tuh, kalau Anda pengguna smartphone tapi gak smart memakainya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s