Andalkan Sekolah atau Les?


Barusan di angkutan kota, mendengar obrolan dua ibu-ibu tentang pendidikan anaknya. Keduanya mengeluhkan sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah sekarang. Kurikulum terbaru yang seharusnya menggenjot kreatifitas guru-gurunya ternyata belum tampak.

Materi pelajaran masih mengandalkan buku wajib. Anak didik masih juga dijejali dengan pekerjaan rumah yang ada di Lembar Kerja Siswa (LKS), yang katanya dilarang diperjualbelikan. Meskipun kenyataannya, tetap dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Orang tua yang takut nilai anaknya jeblok, memilih membelinya.

Satu ibu di angkot itu menyarankan si anak lebih baik disekolahkan secara home schooling. Alasannya sederhana: toh, belajar di sekolah juga pada akhirnya anak harus les juga karena tidak memahami pelajaran. Kendati, risikonya untuk mendapatkan ijazah, anak harus mengikuti ujian persamaan.

“Kalau anak home schooling, dia enggak akan punya teman. Enggak gaul,” ibu yang satunya menolak saran temannya.

Rupanya, si ibu tersebut beranggapan, home schooling akan membuat si anak jadi terisolasi belajar di rumah terus. Anak tidak memiliki waktu bermain dengan teman sebayanya. Akhirnya anak menjadi anak yang kaku dan susah bergaul.

Saya jadi ingat cerita adik ipar tentang anak sulungnya yang baru kelas 1 SD. Si anak merasa kesulitan memahami pelajaran yang diberikan oleh gurunya, terutama pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Anaknya, Nazwa bahkan mengeluh soal evaluasi yang jauhhhhhh dari materi yang diajarkan gurunya.

Saya sarankan adik ipar untuk protes pada guru dan kepala sekolahnya. Menurut saya, mahal-mahal membayar guru harus sepadan dengan hasil yang didapat. Mudah memang bila solusinya, “Ya sudah, anaknya dileskan saja.” Namun apakah semua orang tua dengan masalah serupa mampu membayar uang les anaknya?

Bapak saya termasuk orang yang rewel soal sekolah. Tidak segan dia menyurati guru jika nilai saya jelek. Kalau suratnya tidak ditanggapi, dia akan datang ke sekolah. Kata Bapak, anaknya tidak gratis belajar di sekolah. Jangan heran, kalau saat pembagian raport, obrolannya dengan wali kelas itu paling lama.

Guru memang harus “jagoan”. Dia mesti memiliki strategi dalam mengajar 20-30 anak di kelas. Satu cara saja, tidak cukup. Betapa enak jika cara mengajarnya yang tidak sesuai harapan, dibiarkan begitu saja.

Saya juga jadi ingat ucapan kakak sepupu saya yang mengajar di SMP. Dia bilang, kurikulum sekarang itu ibarat mengajak berlari guru yang jalannya masih tertatih-tatih. Dia bercerita, besarnya angka dari sertifikasi. Guru bahkan sanggup membeli laptop. Tapi tidak dibarengi kemampuan memanfaatkannya. “Masak waktu pelatihan ada guru yang memegang mouse sampe kepalanya miring-miring mengikuti arah kursor bergerak,” ucapnya sambil tertawa.

Dia sendiri berupaya mengikuti kencangnya laju kurikulum 2013 berlari. Ia sudah mencari tahu cara membuat website yang mudah diakses murid-muridnya. Sementara itu, untuk kebutuhan pengajaran, dia memanfaatkan facebook. Muridnya bisa mengaksesnya untuk melihat materi pelajaran dan soal-soal evaluasi. Bahkan, hasil evaluasi pun ia publikasikan di situ.

Sekolah negeri, terutama, memang tergolong lambat dalam hal kualitas pelajaran. Entah guru-gurunya yang memang malas atau bagaimana. Tapi dengan anggaran 20 persen seharusnya kualitas guru bisa ditingkatkan. Yang sulit itu, jika harus instan.

Sementara di sekolah swasta, hal itu sudah berjalan sebelum kurikulum 2013 ditetapkan. Itu setahu saya. Sekali waktu saya pernah meliput sebuah sekolah di kawasan Bandung Utara. Guru-gurunya memang harus ekstra menggali bahan pelajaran yang ternyata kini diterapkan dalam kurikulum terbaru.

Bahan ajaran sifatnya tematik. Jadi tidak ada pengkotak-kotakan mata pelajaran. Misalnya, untuk anak kelas 1 SD, yang dipelajari adalah dirinya sendiri. Anak belajar mengenali anatomi tubuhnya, yang bisa diklasifikasikan sebagai ilmu IPA. Anak lalu menghitung organ-organ tubuhnya, diklasifikasikan sebagai matematika dan sebagainya.

Guru pun harus memiliki banyak buku sebagai acuan. Anak tidak dibebani pekerjaan rumah. Selesai atau tidak selesai, harus di sekolah. Hal itu mendidik ketika ia dewasa, memilah bahwa masalah pekerjaan, selesaikan di tempat kerja. Demikian pula masalah rumah.

Terkait evaluasi, orang tua diundang ke sekolah. Si anak mempresentasikan apa yang dia pelajari selama ini di sekolah. Orang tua mencatat apa yang dipahami dan tidak dipahami anaknya. Catatan itu diberikan kepada guru. Juga mengingatkan si guru untuk membuat anaknya paham. Tidak ada sistem peringkat di kelas.

Saya sepakat dengan peningkatan kualitas guru. Sejujurnya, orang tua berharap lebih dari pendidikan ini. Namun, jika pendidikan yang disodorkan ternyata hanya menjejali formalitas, jangan salahkan bila nantinya, anak-anak tidak terampil saat berada di dunia kerja. Titel boleh berjejer, tapi kemampuan kerja tidak ada. Yang ada hanyalah, tumpukan ijazah tak bermutu! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s