Aktivitas Penuh Tanpa Keluh


Saya sering mendengar keluhan dari sesama ibu hamil tentang berat badan yang melonjak drastis. Ada yang naik sampai 20 kilogram. Sehingga usai melahirkan yang dipikirkan hanyalah cara menurunkan berat badan.

Bersyukur, dalam dua kali kehamilan ini saya tidak mengalami hal itu. Hamil Kinanti, berat badan saya hanya naik 7 kilogram. Penyebabnya, saya mual-muntah hingga usia kehamilan 7 bulan. Saya sampai mencatat jenis makanan yang menjadi pencetus mual-muntah itu. Telur dan susu berada di peringkat teratas. Selanjutnya makanan tak sehat seperti fast food, makanan instan, dan minyak goreng yang dipakai berulang-ulang. Saya pun sampai minta dokter tidak memberi suplemen atau obat-obatan karena saya tidak dapat memakannya.

Berat badan saya justru baru naik berlipat-lipat saat menyusui. Tiap selesai menyusui, nafsu makan meluap-luap. Pakaian-pakaian pun kian sesak.

Kehamilan adik Kinan pun tak jauh beda. Saya start hamil dengan berat 62 kilogram. Sempat naik 1 kilogram dan bertahan beberapa bulan. Berat badan naik lagi hingga 64,5 kilogram di usia kandungan 7 bulan. Namun saat usia 8 bulan, pada pemeriksaan terakhir, malah turun 2 kilogram. Untungnya berat badan bayi normal di usianya: 2.025 gram.

image

Padahal mual-muntah hanya dialami di 2 minggu awal kehamilan. Semua makanan bisa masuk. Jadi aneh rasanya bila berat badan saya seperti sekarang. Dokter kandungan saya di RS Santosa, Robert Hendrik Siahaan, justru mengatakan lebih baik kenaikan berat badan tidak terlalu tinggi. Selain bisa mengganggu aktivitas sehari-hari (kaki bisa bengkak, sesak napas), berat badan berlebih bisa menyulitkan kelahiran. “Yang penting, berat badan bayinya yang tercukupi,” kata dia.

Meski berat badan tergolong “biasa-biasa saja”, perut saya sudah muncugug. Kondisi yang tidak terjadi pada kehamilan Kinan. Kebanyakan orang justru tidak menyadari saya hamil. Tapi sekarang, hmmm, jalan saja sudah ngageang. Membalikkan badan saat tidur pun amat perlahan penuh perasaan. Namun rasa pegal tidak banyak terasa. Hanya sekarang, urat kaki sering murungkut.

Mungkin ini memang proses yang menyenangkan di hamil kedua. Saya tidak boleh banyak tidur, sering beraktivitas karena harus sekaligus menjaga Kinan. Saya malah tidak merasa sedang hamil. Semua kegiatan tidak ada yang dibeda-bedakan.

Pembantu resign

Aktivitas saya di trimester ketiga ini justru lebih padat. Pertengahan Desember 2013, pembantu tiba-tiba menyatakan tidak akan melanjutkan bekerja di rumah. Dia beralasan, mesti menjaga ibunya di Sumedang. Anehnya, pada tetangga, dia bilang tidak sanggup menjaga dua anak. Padahal adik Kinan pun belum lahir dan saya belum membicarakan hal itu dengannya.

Saya kabulkan keinginannya. Dalam pikiran saya, untuk apa mempertahankan orang yang tidak ingin bekerja bersama Anda. Nantinya pekerjaannya pun akan asal-asalan. Karena tugas utama dia menjaga anak saya, saya tidak ingin dia asal-asalan mengasuh anak saya.

Ternyata, tanpa pembantu hidup tidak hancur kok! Di rumah, semua membagi tugasnya. Tugas pokok saya, mengasuh Kinan. Selebihnya, mencuci piring, memasak, membersihkan kamar pribadi, dan soal mencuci biasanya duet dengan suami. Pekerjaan seperti menyapu, mengepel, terkadang dilakukan suami. Bahkan suami juga memandikan Kinan kalau saya tengah dikejar deadline.

Kalau saya bekerja pun, Kinan bisa dititip ke mertua, adik ipar, atau kakak sepupu. Tapi kalau pekerjaan tidak terlalu merepotkan, Kinan saya bawa. Lumayan, mengenalkan dia dengan pekerjaan Ambunya.

Sebulan tanpa pembantu, Alhamdulillah, pekerjaan terurus baik di kantor maupun di rumah. Meski terkadang merasa pekerjaan rumah itu tidak ada jedanya, he he! Seperti cucian yang kering belum disetrika, sudah menumpuk calon cucian baru.

Ahhh.. saya tak perlu mengeluh dengan kondisi tanpa pembantu ini. Hikmahnya, gaji pembantu bisa dipakai kebutuhan lain seperti beli susu dan popok, hi hi! Saya yakin, saat adik Kinan lahir, Tuhan akan mengirim orang yang membantu saya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s