One Hundred, Two Peoples


Pagi ini, matahari sudah menampakkan sinarnya. Meskipun agak malu-malu, karena kawanan hujan kecil mengikutinya, sang matahari terus menunjukkan kali ini ia lebih berkuasa. Bersyukur si hujan menyadarinya, dan menyingkir perlahan.

Namun, di satu tempat di Lembang, tampak seorang calo angkutan kota yang angkuh berusaha memperlihatkan cakarnya pada dua bule yang merupakan pasangan suami istri. Pemandangan itu memancing perhatian saya yang kebetulan melewati mereka saat hendak mengambil uang di mesin anjungan tunai.
One hundred, two peoples,” kata si calo.

Saya pun menebak-nebak tujuan si turis yang ditawari ongkos sewa angkot sebesar itu. Widiw, dengan harga segitu, sopir angkot jurusan Cikole-Lembang sudah tercukupi setorannya. Mungkin, si turis hendak ke Tangkuban Prahu. Tapi masak, sih, harganya segitu.

Selesai saya mengambil uang, rayuan si calo pada si bule masih berjalan. Ada dua orang lainnya, yang menawarkan mengantar si bule ke tujuan. “No, no, we don’t want to bother your work,” kata bule perempuan.

Tapi dua orang ini memaksa. Mungkin kasihan. Saya kira masalah selesai. Saya pun menyebrang jalan. Dari sebrang, saya melihat pasangan bule itu sudah dibonceng dua lelaki tadi. Ternyata, saat mereka akan berangkat, dicegat si calo tadi.

Saya tidak bisa menebak dengan jelas isi percakapan mereka. Namun dari gerak-geriknya, si calo marah pada lelaki yang membonceng dua bule tadi. Si lelaki lalu mengatakan sesuatu, yang membuat si bule turun dari sepeda motor. Mungkin si calo mengancam pemilik sepeda motor itu. Kedua bule itu pun menyerah dan memilih berjalan kaki meninggalkan mereka.

Kejadian tadi membuat saya semakin yakin kapoknya turis memakai jasa warga lokal. Sifat mangpang meungpeung itulah yang merusak niat untuk memajukan pariwisata lokal. Di satu sisi pemerintah berupaya menjaring turis lebih banyak, tapi tidak dibarengi edukasi kepada warga lokal bagaimana memberikan pelayanan maksimal pada turis.

Ada semacam pemikiran, itulah kesempatan mendapat keuntungan yang besar dari turis. Mungkin juga mereka tidak berpikir, kalau perbuatan mereka akan disampaikan si turis pada turis-turis lainnya. Mencari untung saharitaeun.

Jangankan pada turis asing, perlakuan serupa pun diterapkan pada turis domestik. Saya pernah mengalaminya saat berwisata ke Ujung Genteng di Sukabumi. Untuk menghemat biaya makan, saya membeli bahan bakunya dari pelelangan ikan. Lumayan untuk tiga jenis ikan laut seharga Rp 60.000. Lalu saya meminta tolong untuk dimasakkan di dapur tempat menginap. Kaget saya dengan harganya. Rp 90.000!

Bila masih menjunjung tinggi perilaku menerapkan harga setinggi langit pada turis, jangan harap pariwisata bisa maju! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s