Apes, Ketemu Sopir Taksi Rese!


Sejak tak ada asisten di rumah, saya sering membawa Kinan bekerja. Kalaupun tidak dalam rangka bekerja, saya mengajak Kinan menengok ibu di Bandung. Sepulangnya, sudah biasa pula saya memakai jasa taksi Cipaganti.

Selama ini, saya tak pernah bermasalah dengan pelayanannya. Sopirnya ramah dan membawa mobilnya pun tidak grasak-grusuk. Bahkan ada seorang sopir yang tanpa sengaja dua kali saya menumpang taksinya.

Dalam taksi, jarang sekali sepi karena selalu saja ada obrolan. Mulai dari pekerjaan, keluarga, bahkan saya sering tanya-tanya sistem pembagian pendapatan dari pekerjaannya menyopiri taksi. Saat memberikan ongkos pun tanpa menggerutu saya melebihkan beberapa ribu rupiah. Hitung-hitung bayar ngobrolnya.

Baru malam ini saya “apes” kebagian sopir taksi yang rese. Saya langsung catat nama dan nomer pengemudinya. Engkus Kuswara. 01176.

“Mau kemana Bu?”
“Lembang!”
“Lembangnya mana?”
“Pusdikajen. Arah Maribaya. Sebelum Komplek Sespimpol”
“Bu, karena sudah luar wilayah, ongkosnya dilebihkan ya”

Kalimat terakhir itu membuat saya naik darah sesaat. Saya lalu mengatur napas untuk mendebat ucapan si sopir.

“Pak, saya bukan pertama kali naik taksi Cipaganti dari sini (Indomaret Pasirkaliki). Dalam seminggu, sekali pasti saya pakai taksi ini. Dan harga pun biasa sesuai argo!”

Dia lalu beralasan kalau-kalau pulangnya macet. Lah, terus itu urusan saya. Karena dia bawa penumpang ke Lembang yang mungkin jauh dari tempat dia biasa narik penumpang, jadi saya bertanggung jawab untuk memberinya ongkos dua kali lipat?

Rute yang dipakai pun tidak seperti sopir-sopir sebelumnya. Sopir Engkus ini, memilih jalur lurus dari Pasirkaliki melintasi lampu merah perempatan Rumah Sakit Hasan Sadikin yang terkenal durasinya yang lama. Mungkin ingin argonya berlebih. Oke, saya ikuti.

Saya pun memilih menulis pengalaman ini dari pada berbincang dengan si sopir. Biar apa yang saya tulis masih segar bugar. Dia pun tampak sungkan untuk memulai pembicaraan. Salah sendiri, kesan pertama sudah menyebalkan. Dia kira saya akan diam?

Sejauh yang saya tahu, sopir-sopir taksi Cipaganti bukanlah sopir tembak yang seenaknya minta ongkos lebih. Atau mungkin sopir yang kali ini membawa saya dulunya sopir taksi abal-abal. Mungkin saja.

Saya selalu berprinsip berilah pelayanan terbaik jika ingin dihargai. Inipun demikian. Penumpang pasti ikhlas, kok, memberikan ongkos lebih selama pelayanan memuaskan. Saya juga tahu pembagian pendapatan taksi ini seperti apa. Jadi, alasan apa yang membuat si sopir berbuat seperti ini?

Soal macet, sebagai seorang sopir yang berpengalaman, pastilah hapal cara memilih jalan untuk menghindari macet berkepanjangan. Lagipula, ini bukan akhir pekan yang dimana-mana selalu macet berat. Jangan jadikan macet sebagai alasan. Saya tidak mudah Anda bodohi seperti itu.

Buat sopir seperti Anda, Anda akan menerima ongkos sesuai yang tertera di argo! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s