Larasati, Emma, dan Daisy


Seorang kawan jurnalis mengajak saya untuk mewawancarai Larasati Gading, model jaman baheula. Saya senangnya bukan main. Dulu, saya hanya melihatnya seliweran di televisi sebagai bintang iklan kosmetik. Wajahnya rada sering muncul di acara infotainment saat dia menikah dengan Ivan Gading. Setelah menjadi atlet berkuda, Larasati jarang muncul di televisi.

image

Oleh karena itu, ajakan sang kawan tidak saya lewatkan. Lokasi wawancara di villa miliknya, yang katanya di wilayah Cisarua, Lembang. Saya berangkat sendiri karena lokasi villa Larasati lebih dekat dari rumah, meski saya tidak tahu sebelah mana. Saya pun mengajak fotografer dari kantor.

“Siapa Bu, yang bakalan diwawancara? Awas, mun teu geulis!”
“Larasati mah pasti geulis atuh!”
Kade we katipu Bu!”

Rupanya si fotografer tidak tahu siapa Larasati. Dhuarrrr.. rasanya saya tua sekali ketika si fotografer menggelengkan kepala sebagai tanda ia tidak kenal sama sekali siapa itu Larasati. Sementara saya amat mengagumi model cantik itu yang usianya kini di atas 40 tahun itu.

Yahhh.. lupakan saja ketidaktahuan fotografer yang usianya masih 26 tahun itu. Pokoknya saya bakalan ketemu Larasati. Jarak dekat, tidak terhalang layar televisi.

Menuju villanya bukan perkara mudah. Saya menyewa ojek langganan. Alamat yang tidak jelas, plus hujan deras tidak menjadi kendala. Petunjuknya: Cijanggel. Ada Indomaret, sebelah kirinya masuk saja. Ada gapura Komando. Yang sekarang lebih dikenal ke lokasi Family Leisure Park, Dusun Bambu milik Ronny Lukito yang juga pemilik Eiger dan Bodypack itu.

Ternyata villanya di perbukitan dekat kaki Gunung Burangrang. Hanya ada empat villa di bukit itu. Dan, villa Larasati letaknya kedua dari atas.

Ketika tiba di villanya, tampak kuda-kuda tengah diurus pawangnya. Ada 18 kuda yang dipelihara di istal Larasati. Ada juga sebuah lapangan pasir tempat kuda berlatih yang ditutupi atap. Rupanya tempat itu juga sebagai sekolah private berkuda.

Begitu tiba, saya disambut dua pegawainya. Saya disuruh menunggu di lantai bawah karena Larasati tengah berganti pakaian. Saat menunggu itulah, kagetnya bukan kepalang. Seekor anjing yang tingginya hampir sebahu saya datang menghampiri. Namanya Emma. Dia mengitari saya sambil mengendus-endus. Dalam pikiran, matilah saya.

Sejak sekolah dasar, saya tidak sanggup lama berhadapan dengan anjing. Setiap berangkat sekolah, hati was-was khawatir bertemu si Hunter. Mending kalau si Hunter sendirian. Seringnya dia membawa emaknya pula, menghalangi jalan yang biasa saya lintasi. Untuk menghindari si Hunter, saya terpaksa mencari jalan lain. Nah, saya hanya bertahan seminggu melewati jalan yang baru itu karena ada yang baru saja membeli sebuah rumah yang memiliki peliharaan anjing juga, si Hammer.

Saya berusaha menahan degup jantung selama anjing Larasati mengecek saya. Dia baru berhenti setelah majikannya datang. Saya bersyukur inspeksi itu tidak berlangsung lama. Meski selanjutnya, selalu ada anjing pudel, Daisy yang ngintilin kemana-mana.

Setelah itu semua berlangsung lancar. Larasati bukanlah artis belagu. Dia tidak sombong. Obrolan pun terasa lebih akrab. Yang paling mengagumkan darinya adalah kulit dan bentuk tubuhnya yang tidak berubah meski usianya sudah 41 tahun. Penampilannya sederhana, seperti ibu-ibu rumahan tanpa make up tebal dan pakaian gonjreng.

Ia bercerita tentang kehidupannya setelah melepas predikat artis dan model. Kecintaannya pada kuda dan kegiatannya yang juga tidak jauh dari kuda sepertinya telah membuat dia lupa mewahnya kehidupan selebritis. Larasati jarang ada di Jakarta. Kehidupannya lebih banyak di luar negeri. Kalaupun pulang, ia pasti menghabiskan waktu di villanya. “Saya paling suka saat pagi hari melihat kaca jendela, disuguhi pemandangan Kota Bandung dan udara segar,” kata dia.

Mendarah daging

Meskipun tak lagi menjadi model, Larasati Iris Richka Gading tetap tak kehilangan pesonanya saat difoto. Beberapa fotografer yang memotretnya tak perlu kesulitan mengarahkan gayanya. Rupanya Lasarati masih ingat sisi terbaiknya saat difoto.

Dua sesi pemotretan tidak berlangsung lama. Sesi pertama, pemotretan dengan setelan joki. Larasati memilih kuda terbaiknya untuk itu. Dari mulai menggandeng kuda, hingga menungganginya. Sesi kedua, dengan pakaian santai. Fotografer abege akhirnya berujar, “Ngeunaheun motona.”

Meskipun ia sudah berlimpah harta, rupanya kesunyianlah yang ia cari. Di lahan seluas 7.000 meter persegi itu, tidak pernah ia habiskan bersama teman-temannya. “Kadang bersama anak. Tapi lebih sering sendiri. Apalagi di sini susah sinyal sehingga sulit dihubungi. Makanya saya memilih anjing seperti Emma dan Daisy yang menemani,” kata dia. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s