Adat Terbaru Kinan


Kata orang, kalau seorang anak (yang usianya tidak terpaut jauh) akan memiliki adik, akan rewel. Bahkan kerewelan ini bisa dimulai sejak si ibu dinyatakan hamil. Namun, saya justru tidak merasakan hal itu, kecuali akhir-akhir ini, he he!

Saat mengetahui hamil, Kinan hanya mengalami susah makan. Kemungkinan besar, ada perbedaan rasa atas Air Susu Ibu (ASI) yang dia sedot. Kalau kata orang tua, ASI muda, walau saya enggak tahu maksudnya. Nafsu makannya pun menurun drastis. Dalam bahasa Sunda, disebut suda.

Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Nafsu makannya kembali meningkat. Yang berubah, hanyalah tingkat kekebalan tubuhnya yang saya amati berkurang. Soalnya, ASI-nya terpaksa saya hentikan. Menurut dokter, khawatir terjadi kontraksi yang bisa menyebabkan keguguran. Berhentinya asupan ASI, mengurangi kekebalan tubuh Kinan. Agak sering dia mengalami demam. Yang paling parah menurut saya, saat Kinan mengalami muntah dan berak.
Secara umum Kinan anteng-anteng saja, terutama bila ia bermain dengan anak seumuran. Bahkan saat saya terpaksa menitipkannya pada mertua, ibu, atau kerabat, tidak ada keluhan. Perilaku Kinan tidak seperti anak seumurannya. Ia jauh dewasa.

Nah, kerewelan Kinan saya rasakan sejak saya mulai cuti untuk persiapan melahirkan awal Maret ini. Bila ada Abahnya, dia pasti ngintilin kemana pun. Pokoknya Abahnya susah bergerak. Begitu pun dengan saya. Izin ke toilet pun susah didapat. “Nanti aja. Duduk aja,” alasan Kinan, sementara hasrat untuk pipis kian tak tertahan.

Seperti waktu Kinan masih bayi, saya pun kini mengalami stres yang sama jelang tidur. Dia selalu punya alasan untuk menangis. Biasanya diawali dengan mencari Abah. Sambil menangis, lalu dia meminta susu. Setelah susu, masih menangis, dia akan berusaha memuntahkan apa pun yang sudah ada di perutnya. Akibatnya, baju dan seprei yang baru saja diganti mesti diganti lagi. (*lap keringet di dahi sambil menahan emosi)

Abahnya pun tampak merasa kesal dengan kerewelan Kinan. Apalagi, Kinan tak kan berhenti menangis bila keinginannya belum dipenuhi. Saya jadi dobel kesal dan harus melapisi kesabaran berlipat-Iipat.

Menjadi istri dan ibu, memang mesti super sabar. Seorang perempuan ketika memilih menyandang dua predikat itu akan belajar seumur hidupnya berusaha menjadi sempurna. Sempurna untuk menyempurnakan keluarganya. Meski berat, tapi saya menikmatinya. Sabarrrr.. sabarrrr.. sabarrrr! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s