Kaos Partai


Sejak pekan lalu, pemilihan umum sudah memasuki masa kampanye. Isu-isu soal politik pun mulai mewabah baik di pemberitaan maupun obrolan-obrolan warung kopi. Di kalangan menengah atas, setelah ramai tentang cerita di balik pencalonan Jokowi sebagai Presiden 2014, disusul dengan kisah Abu Rizal Bakrie yang berpelesiran bersama duo Zalianty. Sedangkan di kalangan bawah, topik obrolan tidak jauh dari seputar “buah tangan” para calon legislatif yang disisipi pesan, “jangan lupa dicoblos ya nanti.”

Namun, bagi saya lebih menarik kisah Megawati yang mencalonkan Jokowi sebagai presiden dari partai si moncong putih. Bukan karena keikhlasan Megawati tak lagi memaksakan diri menggapai ambisinya sebagai presiden. Atau, kisah Jokowi yang awalnya banyak mengelak, kini malah tampak sumringah ketika dicalonkan partainya itu. Saya jadi ingat dengan Bapa saya.

Betul, melihat Megawati seperti mengenang almarhum Bapa saya. Yang salah, Bapa saya tak mengidolakan Megawati. Yang benar, Bapa saya senang memakai baju yang bergambarkan pasangan Megawati-Prabowo ketika mencalonkan diri di Pemilu Presiden 2009 lalu.

image

Memang, Bapa saya bukan tipe orang yang senang belanja baju baru. Setiap Lebaran pun tak pernah dia memakai baju baru. “Baju yang itu saja masih bagus,” katanya.

Meskipun demikian, jika ibu saya tidak membelikannya baju baru saat Lebaran, Bapa akan mengomel. Serba salah jadinya Ibu saya. Daripada menuai omelan Bapa, Ibu lebih baik membelikannya baju baru. Hasilnya, ketika Bapa meninggal dunia, baju-baju yang dihibahkannya itu masih bau toko, loh!

Lalu apa baju favorit Bapa?
Bapa senang dengan baju yang tipis. Dan pilihannya jatuh ke baju-baju yang dibagikan saat kampanye. Jadilah saya yang mesti berburu kaos-kaos partai.

Ketika berburu kaos partai, saya pasti ditertawakan teman-teman. Ya iyalah, kaos partai kan tipis, jelek sablonannya, dan pasti murah harganya. Mengelak dari ejekan teman, saya bilang saja untuk koleksi.

Hasil buruan saya cukup banyak. Hingga satu hari, saya mendapat selusin kaos kampanye Mega-Prabowo. Bapa amat bahagia dengan oleh-oleh dari saya itu. Setiap hari ia berganti kaos dengan motif yang sama: Megawati-Prabowo. Kaos dari partai kuning pun pensiun dan menjadi kain lap.

Efek dari kesukaan Bapa akan kaos murah meriah, saya jadi tidak punya banyak foto kenangan Bapa. Oh iya, Bapa saya juga suka kaos hadiah dari dagangan. Intinya, Bapa mah suka kaos gratisan lah, ha ha! Satu-satunya foto Bapa yang rada gaya, ya, waktu saya kawinan. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s