PS I Love You


Sudah lama saya tidak men-scroll linimasa di facebook. (*heuheu padahal baru sehari pun kurang).. Soalnya notifikasi dari facebook yang saya terima akhir-akhir ini kebanyakan ajakan bermain. Wah, untuk yang satu ini saya benar-benar malas. Sudah tak pernah membuka facebook di laptop atau desktop sehingga jarang pula bisa memainkan permainan di facebook.

Akan tetapi, kali ini sambil menggendong Kian dan menunggu sate akikahan dibakar, saya luangkan waktu membaca status, foto, dan link yang diunggah teman-teman di facebook. Sesekali saya mengerenyitkan dahi membaca status yang ditulis. Atau, agak kesal dengan foto-foto dangdutan saat kampanye yang mengumbar birahi.

Ketika sampai pada sebuah status yang ditulis adik kelas di kampus, saya terdiam. Cukup lama. Saya membayangkan apa yang dia rasakan saat ini.

Lalu, saya buka halaman facebook miliknya. Saya penasaran dengan perjalanan di facebook adik kelas saya itu hingga sampai pada status yang terakhir. Di tulisan itu, dia menyampaikan salam perpisahan pada istrinya yang baru saja meninggal dunia karena sakit. Saya tidak tahu penyakit yang dideritanya. Kamis lalu status perpisahan itu ditulisnya.

Di dinding facebooknya, tertempel foto sang istri tergolek dengan selang-selang dipasang di tubuhnya. Ada pula satu foto, sang suami bersama anak semata wayangnya menengok. Berharap keajaiban datang. Setelah tiada, sejumlah teman mengirim foto almarhumah. Menuliskan kenangan dan untaian doa. Sedih saya membacanya.

Mungkin usia pernikahannya kurang dari lima tahun. Usia balita dimana anak pun masih belum pandai menulis dan membaca. Usia dimana ketika cinta masih rentan diuji. Usia dimana pernikahan masih rawan diguncang.

Dan jodoh mereka diputus Tuhan dengan sebuah guncangan besar. Kematian. Yang membawa duka yang dalam dan mungkin sulit untuk membuatnya kembali seperti sediakala.
Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang baru menikah empat tahun meninggal dunia karena sakit. Dia meninggalkan seorang istri dan anak berusia kurang dari tiga tahun. Torehan luka sangat dalam menggores sang istri. Terkadang saya membuka halaman facebook istrinya walau saya tak berteman dengannya. Lebih dari sebulan, ia baru sanggup menuliskan sesuatu: ucapan terima kasih dan sepenggal duka yang harus dia lalui.

Saya tidak tahu akan seperti apa saya jika hal itu menimpa diri saya. Saat Bapa meninggalkan Ibu, cukup lama bagi Ibu untuk bangkit. Obat yang cukup ampuh, Ibu menenggelamkan diri dalam kesibukan berjualan. Mungkin bisa dikatakan Ibu beruntung karena anak-anaknya sudah dewasa dan bekerja.

Lalu kalau itu menimpa saya?
Saya memang bekerja. Dan saya yakin Tuhan akan mencukupkan rejeki untuk saya dan anak-anak saya. Namun, sanggupkah saya ditinggalkan suami, belahan jiwa saya begitu cepat? Bisakah saya hidup seperti biasa saat saya masih berdampingan dengannya? Meski saya tahu, kematian itu memang takdir tak dapat dihalangi oleh apa pun, di mana pun, dan siapa pun.

Saya jadi ingat sebuah novel yang pernah saya baca, PS I Love You. Novel ini bercerita tentang kesedihan seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya. Ternyata si suami sudah mempersiapkan semuanya termasuk membantu si istri menghadapi kehilangannya. Bahkan si suamilah yang memberi tanda bahwa sudah cukup masa berkabung bagi istrinya. Ia harus terus hidup dan melaluinya dengan bahagia.

Setiap hari, surat-surat dikirimkan oleh suaminya. Tentunya bukan dikirim langsung oleh suaminya karena si suami toh sudah meninggal. Namun surat itu sebagai alarm bahwa melanjutkan hidup itu bukan melupakan kenangan dia bersama pasangan yang meninggalkannya lebih dulu. Memang si istri yang sangat terpuruk sempat berpikir kenapa ia tidak mati lebih dulu sehingga ia tidak perlu merasakan duka sedalam itu. Namun, semua itu ketentuan Tuhan.

Mungkin saya akan berpikir serupa jika itu menimpa saya. Namun Tuhan pasti memberikan ujian yang Dia yakini bisa dilalui oleh makhluk-Nya. Dan saya rasa, waktu akan menyembuhkan luka itu. Kawan, saya yakin kalian kuat dan mampu melalui semuanya! Di alam sana, dia yang telah meninggalkanmu juga selalu mengirimkan pesan indah: PS I Love You! (*)

Dan tak perlu menunggu nanti, saya pun akan selalu mengirimi pesan indah setiap hari. I Love You @radengagah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s