Burulah Jodohmu dengan Hatimu


Setiap orang pasti memimpikan mendapatkan jodohnya yang terbaik. Kalau bisa pilihan terbaik yang hanya ia yang mendapatkannya. Ketika ia mendapatkannya, orang lain hanya bisa ternganga dan tak percaya bahwa ia bisa mendapatkannya. Kalau bisa, jodohnya itu tak bisa disaingi dan dibandingkan dengan yang lain. Maka, ia akan menjadi pasangan terbaik dan terbahagia di dunia ini.

Namun mencari jodoh itu lebih sulit dari pada mencari jarum di antara jerami. Ucapan orang yang bilang, kalau mukanya mirip itu jodoh pun belum tentu benar. Tapi kalau jodoh itu jorok – bisa ketemu di mana saja – mungkin saja benar. Akan lebih baik kalau pertemuan dengan jodoh itu tidak perlu di mana saja dan dalam momen yang romantis.

Nah, menantu ideal yang diinginkan untuk anak lelaki Ibu Isye ini rupanya tertuju pada Neng Astri. Ibu Isye sampai bersusah payah meminta nomor telfon saya pada atasan saya yang kebetulan teman sekolahnya. Saya tak mengira permintaan Ibu Isye dengan Neng Astri berakhir pada perjodohan.

Oh ya, siapa sih Ibu Isye dan Neng Astri ini?

Baiklah, cerita saya mulai dari Neng Astri saja. Dia itu salah satu nara sumber untuk rubrik Geulis. Neng Astri yang kini tengah menyelesaikan pendidikan S2-nya memiliki usaha sendiri di bidang pembuatan sepatu. Dia bahkan memberdayakan ibu-ibu di kampungnya, Banjaran dalam memproduksi sepatu pesanannya. Tidak heran dia kebingungan ketika saya meminta wawancara sekaligus pemotretan dilakukan di workshop miliknya.

Selain layak berada di rubrik Geulis, di mata Ibu Isye, Neng Astri layak juga dijadikan menantunya. Ibu Isye ini mengirimi saya pesan singkat di awal Oktober 2013, beberapa pekan setelah tulisan Neng Astri dimuat. Dia memperkenalkan diri sebagai guru di sebuah sekolah menengah atas di Bandung. Juga sebagai teman satu sekolah salah satu direktur di kantor saya. Malah jika saya tak percaya, Ibu Isye mempersilakan saya mengonfirmasi langsung kepada si direktur. Duh Ibu, saya kira itu tidak perlu!

Saya tidak perlu mencurigai Ibu Isye secara berlebihan. Keperluan Ibu Isye yang meminta kontak Neng Astri, dalam pikiran saya, tidak jauh dari pekerjaan Neng Astri. Mungkin Ibu Isye ingin memesan sepatu dari Neng Astri. Itu saja. Tidak lebih.

Setelah memberitahukan nomor Neng Astri, komunikasi saya dengan Ibu Isye tidak berlanjut. Baru saya tahu tujuan Ibu Isye setelah berbincang dengan atasan saya yang juga teman satu kelas Neng Astri.

Dalam percakapannya, Ibu Isye langsung menembak Neng Astri untuk dijadikan menantu. Sontak Neng Astri kaget. Bagaimana tidak, saat saya wawancara saja, dia tidak lepas dari pengawalan sang kekasih. Kekasih yang juga bersama-sama menapaki usaha di bidang sepatu dari nol. Kekasih yang ia anggap sebagai pelabuhan terakhirnya. Sehingga, sulit mungkin bagi Neng Astri menjawab tawaran Ibu Isye.

Apalagi Neng Astri tidak tahu anak Ibu Isye. Meskipun Ibu Isye memberitahukan seperti apa anaknya, Neng Astri pasti menolaknya dengan halus. Ibu mana sih yang menjelek-jelekkan anaknya. Apalagi ketika berpromosi pada calon menantu yang ia incar, hal-hal baik yang dibaginya.

Kendati jutaan pujian untuk anaknya disampaikan pada calon menantu idaman, Ibu Isye rupanya harus gigit jari. Penolakan halus Neng Astri membuat Ibu Isye harus berburu perempuan lain yang dinilai ideal untuk anaknya. Atau Ibu Isye mesti ikhlas memercayakan anaknya mencari pasangannya sendiri.

Usaha mencari pasangan sendiri itu yang ditempuh seorang lelaki ketika nekat melamar Dina, seorang humas hotel, yang dikenalnya dari sebuah tulisan di Koran Sindo. Dina tidak pernah menyangka tulisan tentang dirinya telah menarik hati seorang bujangan.

Tidak lama setelah pemuatan tulisan itu, datanglah sepucuk surat. Dengan amplop resmi. Tanpa bunga atau pun hal-hal lain yang berbau romantis. Dian menyangka surat itu seperti surat-surat resmi lainnya yang biasa ia terima di kantor.

Setelah dibuka, barulah ia tahu kalau itu adalah surat cinta. Di surat itu, sang perjaka bercerita tentang kekagumannya akan kecantikan fisik dan “hati” Dina (cieeee..hati ni ye). Lelaki itu pun berkisah tentang dirinya yang mencari tambatan hati untuk ia jadikan pasangan hidup. Dan dia berharap, pasangan hidupnya itu adalah Dina.

Tanpa harus menjawab surat itu, Dina langsung membuangnya ke tong sampah. Dina merasa, bukan seperti itu cara dia dipertemukan dengan jodohnya. Dan tulisan yang memuat tentang dirinya, bukan bertujuan mencari pasangan hidup.

Soal jodoh, sebagian orang beranggapan, akan bertemu ketika saatnya tiba. Namun ada pula yang beranggapan, kalau tidak dicari, mana mungkin bertemu. Jadilah, orang-orang ini yang akhirnya memenuhi biro-biro jodoh, he he.. Tetapi, jodoh itu memang jorok dan ketika Anda bertemu dengan jodoh Anda maka hati Anda akan terketuk dan merasakan “klik”. Maka bersabarlah dan nikmati saat perjalanan Anda bertemu jodoh Anda. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s