Nasib Para Pengejar Tabung Gas 3 Kilo


Di salah satu caption foto yang saya posting di halaman facebook saya, ditulis soal sulitnya mengejar truk gas 3 kilo dari pada mengejar jodoh. Memang benar demikian kenyataannya. Apalagi, truk ini sangat jelas penampakannya.

Kalimat itu saya simpulkan berdasarkan pengalaman pribadi ketika kehabisan gas elpiji 3 kilogram. Kalau tidak memiliki dua bayi di bawah dua tahun ini, saya mungkin tidak perlu bersusah payah berburu gas. Namun, dua anak ini sangat bergantung pada gas untuk kebutuhan air panasnya.

Gegara (kadang) langkanya gas elpiji 3 kilogram ini, saya sempat berpikir membuat hawu. Si Abah bertanya kenapa? Mungkin dia berpikir, gas masih bisa dicari. Saya jawab dari pada memakai ide “brilian” Ema (nenek) saya. Ema memilih membuang waktu dua jam ketimbang minyak tanah demi air panas untuk cucunya. Yess, air di jolang dijemur di bawah sinar matahari. Dua jam itu jadinya hanya panas meueusan.

Sore hari, saat ponakan sudah nyalse dari membereskan penguburan hayam jagonya yang nguyung beberapa hari terakhir, saya ajak hunting gas elpiji 3 kilo. Kebetulan Ohim (ponakan) juga disuruh neneknya untuk mencari gas. Sama-sama kehabisan. Padahal pagi harinya, si Abah sempat nebeng di kompor nenek Ohim menjerang air untuk mandi si Cikal. Meskipun saat pulang, si teko begitu cantik rupanya. Sekujur badannya dipenuhi mehong.

Singkat cerita, titik-titik target buruan kami mengecewakan. Semua menjawab hal sama. Gas habis, belum dikirim. Gagal mendatangi warung dan toko, kami dengan mengendarai sepeda motor matic dan membawa dua tabung gas 3 kilo yang kosong berkeliling mini market. Jawabannya sama.

Kecewa berlipat-lipat. Apalagi si tabung gas 3 kilo ini besarnya melebihi jatah pantat saya di boncengan. Selain kecewa, pantat saya pun pegal karena nyantol di ujung besi boncengan. Sakit bray!!!

Meski sudah memutari Pangragajian, Pusdik Ajen, Sesko AU, Pasar Lembang, hingga Lembang Atas, kami tidak menyerah. Hingga satu saat, kami menemukan sebuah asa. Asa yang awalnya kami kira petaka, he he!

Di sebuah titik, ada suara klakson demikian kencang memaksa kami mengurangi kecepatan dan memberinya jalan untuk melintas. Sudah seperti mobil patwal saja kelakuan. Ketika ditengok, itu adalah sebuah truk. Saat kami beri jalan sehingga kami berada di belakangnya, mata kami terbelalak bahagia. Itu adalah truk yang mengantar gas elpiji 3 kilo ke agen-agen. Inilah kesempatan.

Kami ikuti truk hingga titik akhirnya. Dia berhenti di sebuah agen yang kami lewati sebelumnya. Sayang, saat kami hendak membeli. “Maaf, pemiliknya tidak ada sedang di Bandung,” kecewa kami.

Tak lama melintas lagi trus gas lainnya. Kami ikuti. Ketika kami menyampaikan maksud akan membeli, jawaban si pengangkut lagi-lagi sama. Tidak ada pemiliknya. Mau membeli saja dipersulit, apalagi kalau minta gratis. Bisa dilempar pakai tabung nantinya.

Melupakan kekecewaan, kami susuri gang demi gang. Berharap ada warung atau toko yang menjual gas, yang mungkin tadi terlewat. Ahaaaa.. ketemu! Meski harganya cukup mahal, kami beli saja. Butuh sih!

Ternyata keapesan kami belum habis. Di rumah si gas tidak juga menyala. Dicoba beberapa kali, akhirnya menyala. Namun hanya separuh. Dengan tenaga yang tersisa, kami kembali ke warung semula. Ditukar tabung dengan tabung lainnya.

Beginilah nasib para pencari tabung. Repotnya mengejar truk gas. Gas sudah didapat, eh, si truk datang sendiri ke rumah. Mengantarkan gas pesanan warung. *lap keringat yang bercucuran* (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s