Repot, Enggak Repot, sih!


Riweuh teu boga budak dua? (repot enggak punya dua anak)”, pertanyaan yang agak sering saya terima sejak kelahiran Kiandra. Ya, kalau di awal-awal belum terasa sih! Karena kerjaan Kian hanya menyusu, tidur, dan menangis. Jadi saya masih lebih konsentrasi mengurus Kinan.

Satu alinea di atas selesai sejak kemarin. Namun lanjutannya, ya, seperti ini. Dilanjutkan ketika saya punya me time. Nah, “me time” ini baru ada kalau dua anak saya tidur siang bersama-sama dalam waktu yang cukup lama. Saat itulah saya bisa leluasa mandi tanpa harus diburu-buru, memasak untuk suami yang sore baru pulang kerja, atau menulis di blog.

Untuk bisa mendapatkan “me time” yang cukup lama ini, perlu waktu yang tidak sebentar untuk membaca gelagat tiap anak. Misalnya, Kinan harus dieyong lebih dulu hingga ia lelap. Kalau Kian perlu lebih lama dan beberapa kali menyusu hingga ia kenyang dan tidurnya tidak terganggu. Saya juga harus memastikan barang-barang yang ada di sekitarnya aman dan tidak menutupinya saat dia bergerak. Bukannya lelap, yang ada malah nangis tiada henti.

Menjaga dua anak di siang hari, tanpa asisten, saya kira tidak terlalu merepotkan. Di pagi hari, saya bisa mengandalkan si Abah terutama urusan domestik Kinan. Abah belum berani menggendong Kian karena tulang tengkuknya belum tegak benar. Agak siangan, dua ponakan datang, sehingga Kinan lebih asik bermain hingga guru ngaji kakak-kakaknya datang. Terkadang dia ikut belajar, tapi lebih sering mengganggu sih, he he! Di saat yang bersamaan Kian tidur lelap setelah dimandikan.

Ketika itulah saya bisa leluasa mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Nah, di jam makan siang agak sedikit chaos. Kian biasanya minta menyusu agak lama. Dan, Kinan sering kali merengek cukup lama meminta disediakan makan. Tak ada yang mau mengalah.

Di sore hari, Kinan biasanya bermain bersama kakek-neneknya atau saudara yang tinggal tidak jauh dari rumah yang kami tinggali sekarang. Babak rebutan baru dimulai saat malam. Beruntung, ada Soimah yang bisa menenangkan Kinan.

Pergulatan yang sebenarnya bagi seorang ibu adalah saat tidur di malam hari. Saya benar-benar merasa seperti memiliki anak kembar. Mereka bisa terjaga bersamaan dengan suara tangisan yang tidak kalah stereonya. Dan anehnya, si Abah bisa bergeming dari tidurnya. Kadang saya berpikir, apakah semua lelaki sama? Jika iya, mungkin Tuhan memang menciptakan telinga yang kedap suara bagi lelaki di malam hari?

Ketika tangisan stereo itu tiba, maka dua tangan saya dirasa tidak cukup menghentikan tangis mereka. Saya menyusui Kian yang berada di sebelah kanan saya. Kinan berada di sebelah kiri dan saya punggungi saat menyusui Kian. Tetapi tangan saya tetap membelai atau menggaruki kaki Kinan di saat yang sama. Adegan ini berulang setiap jamnya. Baru tenang setelah adzan subuh. Hupfffffh!

Selain soal keriweuhan mengurus tiga anak (dua anak plus bapaknya), ada juga teman yang menanyakan soal persaingan adik-kakak yang usianya tidak terpaut jauh ini. Katanya, si kakak yang iri bisa menyakiti adiknya. Hmmm… apa benar?

image

Dari sejumlah referensi yang saya baca, kondisi itu disebut sibling rivalry. Saya kira sepanjang orang tuanya membekali diri “membagi” kasih sayang yang sama, itu tidak terjadi. Kalau Kinan sih terkadang mengusap lalu memukul Kian dengan alasan “gemes”. Dan sepanjang kita tidak lengah, bisa mengakali agar kejadian tidak berulang. Malah kini Kinan lebih sering mencium adiknya ketimbang memukulnya. Kalau kepergok hendak memukul, Kinan sering mengeles dengan alasan menyebutkan bagian tubuh adiknya yang sama dengannya.

Ada teman yang bilang kalau kesal jangan memarahi kakaknya. Hal itu bisa menyebabkan fatal di masa depannya. Mungkin gampang untuk mengatakannya. Tapi, mengurus satu anak itu, ujian kesabarannya cukup besar. Apalagi dua anak. Namun itu tidak jadi alasan pembenar saya memarahi Kinan. Dia pun cukup paham kalau saya marah. Karena saat saya marah pasti memanggil lengkap nama dia, he he! Jujur, sangat susah untuk sabar terutama ketika dua-duanya menangis bersamaan dan sulit dihentikan.

Kesulitan yang lain, apa ya? Oh iya, cukup sulit mungkin untuk berjalan-jalan bersama. Saya harus memilih membawa yang mana ketika harus berbelanja ke supermarket. Bersama si Abah pun terkadang harus memilih membawa serta anak yang mana. Sampai-sampai kami berpikir untuk mendesain safety belt buat Kinan ketika berada di sepeda motor. Maklum kami belum memiliki kendaraan roda empat yang layak untuk kami kendarai berempat. Semoga bisa terwujud mimpi itu!

Ya, satu hal yang pasti bagi ibu-ibu yang memiliki bayi dan anak batita, sih, sulit tidur lama. Lama-lama terbiasa juga kan, bangun tidur dengan kepala keliyengan akibat tiap jam terjaga. Apalagi sejak semalam, si Abah kumat sakit giginya, maka saya harus lebih siaga menjaga tiga orang. Dan yang mesti disyukuri, Tuhan selalu memberi kekuatan dan kesehatan berlebih bagi ibu-ibu agar bisa menjaga anggota keluarganya. Amin! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s