Bersatu Kita Teguh, Bercerai (tak mudah) Kawin Lagi!


Setiap pertemuan, pasti diakhiri dengan perpisahan. Begitu pula sebuah pernikahan. Akhirnya bisa karena perceraian atau pun kematian. Namun pernikahan yang berakhir (karena dua alasan tadi), bisa menjadi awal dari pertemuan berikutnya. 

Perpisahan dengan perceraian, merupakan akibat dari sebuah masalah yang tak menemui titik jumpa oleh pasangan. Keadilan, kesetaraan, ekonomi, dan kekerasan, adalah kata yang menjadi penyebab perceraian. Sering kan, mendengar kata, “kami sepakat bercerai. Ini keputusan terbaik menyelesaikan masalah kami.” Yakin lo?

Data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI, kurun waktu 2005-2010, rata-rata satu dari sepuluh pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan. Dari dua juta pasangan yang menikah pada 2010, sebanyak 285.184 pasangan bercerai. Angka itu merupakan tertinggi se-Asia Pasifik. Dari angka tersebut, 70 persennya gugatan cerai diajukan perempuan dengan alasan ketidakharmonisan. Dianggapnya bercerai adalah solusi terbaik.

Toh, perceraian bukan ujung masalah. Memang perceraian jauh dari pegadaian, maka wajar jika perceraian dibilang solusi yang memberikan masalah. Mulai dari ogah mediasi, harta gono-gini, uang tunjangan, hingga hak asuh anak.  Masalah-masalah itulah yang bikin proses cerai panjang bin lama seperti perceraian Ahmad Dhani-Maia Estianty. 

Tak usah jauh-jauh ke pengadilan agama, cerminan tingginya angka perceraian bisa kita lihat dari tayangan infotainment. Artis, selebritis, mau yang terkenal atau yang merasa terkenal, berasa bangga muncul di layar kaca dengan pemberitaan soal perceraiannya. Bahkan tidak sedikit yang menjelek-jelekkan pasangan. Harapannya, penonton akan berempati dan menempatkannya di posisi yang teraniaya. Demi pencitraan tea! Tak apa palu cerai lama diketuk, asalkan sering masuk televisi. Nanti kan akan ada lebih banyak tawaran menyanyi, sinetron, film, atau talkshow. Baik off air maupun live.

Pasangan artis sinetron yang juga presenter infotainment, Christy Jusung sering menyelipkan kekesalannya tentang perceraiannya dalam celetukan di acara infotainment yang dikawalnya. Jay Alatas, promotor yang sukses mendatangkan Metallica, adalah suami kedua yang menikahi Christy. Kurang dari dua tahun, kini berada di ambang perpisahan. Disebut-sebut, Christy tidak klop dengan anak Jay. Sampai-sampai, Christy diusir dari rumah Jay awal Januari 2014. Kabarnya, barang-barang Christy “dibuang” di teras rumah oleh pembantu Jay.

Pasangan lain yang tak kalah heboh berbalas pantun di tayangan infotainment adalah Bopak Castello dan Putri. Bopak dituding menelantarkan Putri dan anaknya dengan menempatkan mereka di kontrakan yang tak layak. Putri memilih kembali ke orang tuanya. Sementara Bopak masih belum sebeken sekarang tiga tahun silam.

Kini, entah kebetulan atau tidak, saat jadwal keartisan Bopak demikian padat, Putri muncul dan menuntut Bopak. Ia menggugat cerai Bopak serta menantang pertanggungjawaban Bopak terhadap anaknya. Terakhir, Putri menantang Bopak menghadiri sidang cerai perdananya. Bopak tak kalah membalas tantangan Putri. Ia meminta tes DNA atas anaknya. Dan, menjawab tantangan Putri, Bopak datang ke sidang perdananya.

Nah, pasangan yang juga tak habis berita perceraiannya adala Nia Daniaty dan Farhat Abbas. Meski yang sering nongol sih, Farhat bersama calon istri barunya, Regina yang diramaikan oleh calon mantan suami Regina, Ilal Ferhad. Yang bercerai Farhat-Nia, yang nebeng beken dengan perceraiannya juga Regina-Ilal.

Yang bikin ramai beritanya, ngelesnya Farhat dari kesanggupan ia memberikan tunjangan pada Nia. Berbekal surat pernyataan Farhat beberapa tahun lalu, tertulis kesanggupan Farhat membiayai sebesar Rp 100 juta per bulan serta memberikan rumah yang sempat ditinggali mereka berdua. Namun kini, Farhat berujar hanya sanggup sebesar Rp 7 juta per bulan. “Gaji presiden itu Rp 100 juta. Kalau saya jadi presiden dan menyanggupi tunjangan Rp 100 juta, habis dong gaji saya,” kata Farhat suatu kali.

Sementara Farhat sibuk safari dari satu infotainment ke infotainment lainnya membalas tudingan Ilal tentang perzinahan Farhat-Regina, Nia lebih banyak order menyanyi. Biar dapur tetap ngebul, ya, Ceu. Secara, anak dari Farhat sudah terbiasa hidup mewah.

Satu lagi pasangan yang sibuk jawab sana-sini soal perceraiannya yaitu komedian Daus Mini dan Yunita. Kebalikan Farhat, di sini Yunita yang lebih rajin road show di infotainment atau pun acara talk show. Dengan riasan yang mblog-mblogan, Yunita berurai air mata berkisah tentang perceraiannya. Dia pun sibuk bersilat lidah membantah tudingan perceraian ini rekayasa seperti perselingkuhan Daus dan Merry yang dikabarkan bertarif Rp 70 juta. Di setiap acara yang dihadiri Yunita, selalu ada hiburan lantunan dan goyangan dangdut Yunita. Seperti menguatkan tuduhan perceraian ini demi mendongkrak kehadiran Yunita yang berduet dengan istrinya komedian Ginanjar (yang juga menggugat cerai) bernyanyi dangdut. Another duo in dangdut!

Tapi siapa bilang perceraian akibat kematian tidak memberikan runtutan masalah. Mungkin ini terjadi by case saja seperti perkara meninggalnya komedian Jojon. Ada anak dari istri sebelumnya yang dianggap merecoki harta yang ditinggalkan Jojon. Mantan istri dan istri Jojon sama-sama keukeuh kalau keributan mereka bukan karena harta warisan. Keduanya beralasan ingin dianggap “ada”. Eksis! Maka bergantianlah komentar mereka muncul di layar infotainment.

Terkadang perceraian karena kematian ini seakan-akan akhir dari dunia bagi pasangan yang ditinggalkan. Hidup sampai di sini. Tak ada kamu, apalah artinya aku. Selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun hidup terasa hampa. Di sudut mana pun di rumah terbayang wajah kekasih hati belahan jiwa. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Teman saya sempat bertanya tentang kondisi ibu saya pasca ditinggal Bapa. Berapa lama Ibu berkabung? Seperti apa? Lalu, bagaimana Ibu bisa melanjutkan hidup?

Ibu teman saya itu bagaikan hidup segan mati tak mau setelah ditinggal suaminya. Ibu teman saya itu sakit juga. Darah tinggi. Saat ayah teman saya kritis dan kemungkinan tak tertolong sangat besar, di rumah sakit, anak-anaknya sepakat tidak membiarkan ibunya datang. Namun, mereka yang ditakdirkan sebagai satu jiwa, pasti merasakan kalau separuh jiwanya telah pergi.

“Ketika di rumah banyak orang, saudara berkumpul, ibu saya tampak ceria. Lupa dengan dukanya. Tapi saat semua pulang, dan rumah hanya berisi kami (tanpa ayah), pandangan mata ibu kosong. Pekerjaannya hanya melamun,” kata teman saya yang selalu berat bertemu hari Jumat, hari ayahnya meninggal, karena tiap hari Jumat, jiwa ibunya entah kemana.

Melihat kerabatnya dirundung duka berkelanjutan, satu per satu saudara teman saya “mengungsi” secara bergiliran. Menemani ibunya. Menularkan senyuman. Jadwal piknik ibu teman saya ini pun ditambah. Tapi saat kembali ke rumah, ibunya kembali murung. Terakhir, ibunya meminta untuk pindah ke rumah kontrakan. Mungkin ia berharap dengan menjauh dari rumah kenangan bersama suaminya, lukanya akan segera mengering dan sembuh.

Ibu saya, ditinggal Bapa hampir dua tahun. Saya yang tinggal berjauhan dengan Ibu, mungkin tidak melihat keseharian Ibu tanpa Bapa. Tapi saya yakin Ibu amat merindukan Bapa. Setiap hari, semasa Bapa hidup, 24 jam mereka tak pernah berjauhan. Yah, sesekali terpisah hanya karena Ibu atau Bapa berbelanja untuk keperluan warung, penopang hidup keluarga setelah keduanya berhenti bekerja di pabrik.

Kesedihan Ibu atas kepergian Bapa kentara ketika saya usai melahirkan anak pertama, Kinan. Bapa meninggal dunia sehari sebelum saya melahirkan Kinan. Ketika banyak tetangga yang menengok Kinan, awalnya Ibu bercerita tentang cucu pertamanya itu. Lalu, berangsur ia bercerita kemiripan Kinan dengan Bapa, maka kenangan akan Bapa pun dimulai. Ibu akan berkisah tentang kebiasaan Bapa. Rasa kangen yang menyeruak.

Padahal kalau diamati, setiap hari, rasanya mereka tak pernah akur. Pertikaian kecil selalu ada, meski tidak jauh dari masalah dapur dan warung. Bapa sering mengomel tentang kompor yang lupa dimatikan atau piring yang tak bersih dicuci. Ibu membalas omelan Bapa. Namun mereka tak pernah bertatap muka saat beradu mulut. Bapa di dapur dan Ibu di kamar mandi.
Ibu tak pernah berani membeli barang baru di rumah. Ibu takut dengan omelan Bapa kalau ia membeli barang baru. Takut dianggap pemborosan. Sebelum meninggal Bapa sempat berujar, ia tak mempermasalahkan barang baru yang Ibu beli. Tapi, jangan membuat barang lama terbuang. Barang-barang yang seharusnya disingkirkan tetap bertahan, meskipun ada barang baru. Jadilah rumah kami seperti gudang atau toko barang bekas.

Perkataan Bapa itu pun diartikan lain oleh Ibu setelah Bapa meninggal. Mungkin Bapa tahu ia akan segera dipanggil Tuhan. Namun, ia ingin tetap dikenang Ibu jika Tuhan menentukan ada jodoh yang lain untuk Ibu.

Bapa pun telah menyiapkan Ibu lebih mandiri tanpa dia. Kegiatan pemesanan barang via telfon yang semula dilakukan Bapa, dialihkan ke Ibu dua bulan sebelum Bapa pergi. Padahal Bapa selalu melarang Ibu memegang ponsel. Jadilah Ibu saya teramat sangat gaptek dibandingkan ibu-ibu yang usianya jauh lebih tua. Bapa sudah ikhlas Bu!

Kini, apa Ibu saya sudah ikhlas? Iya, Ibu saya sudah mengikhlaskan kepergian Bapa. Ibu tak perlu lagi mengkhawatirkan rasa sakit yang diderita Bapa. Setiap hari Ibu menjadi wadah tempat Bapa menumpahkan kekesalan atas sakitnya yang tak kunjung sembuh.

Di akhir usianya, Bapa membuat Ibu merasa tersanjung. Mungkin bagi Ibu, pujian Bapa layaknya pasangan muda yang dilanda asmara. Meskipun itu akibat ingatan Bapa yang terus terkikis. Bapa tak mengenal Ibu sebagai istrinya. Bapa melihat Ibu sebagai sosok perempuan yang cantik, yang membuat Bapa jatuh cinta dan menikahinya puluhan tahun silam.

image

Setelah kepergian Bapa, aktivitas Ibu tidak banyak berubah: pasar, warung, dan rumah. Hanya, rumah menjadi lebih sepi. Kadang ramai kalau saya dan anak-anak berkunjung.

Kesibukan juga yang membuat Ibu tak berpikir mencari pengganti Bapa. Bagi kebanyakan orang, usia Ibu yang kini baru 49 tahun, dinilai masih layak kembali bersuami. Namun, hingga saat ini Ibu tak pernah membayangkan hal itu. Meskipun tidak dipungkiri, ada beberapa orang yang bertanya akan kemungkinan Ibu menerima lelaki lain sebagai suaminya.

Ibu sering kesal dengan “tawaran” menikah lagi itu. Ibu bukanlah barang yang ditawar-tawarkan dengan gampang. Ibu ingin perasaannya dihargai. Buat Ibu, Bapa adalah lelaki satu-satunya yang amat dicintai. Bapa dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah belahan jiwa Ibu sejak usianya 15 tahun. Perceraian Bapa dan Ibu pun hanya bertahan dua tahun. Karena cinta, mereka rujuk. Dan hanya kematian yang benar-benar memisahkan mereka.

Ibu tidak pernah menutup pintu untuk cinta yang lain. Hanya, berikan Ibu waktu untuk mengemasi kenangan Bapa dalam ruang tersendiri yang tidak bisa digusur lelaki lain. Dan seandainya ada jodoh lain untuk Ibu, haruslah lelaki yang benar-benar mampu membahagiakan Ibu. Bukan lelaki yang malah membebani hidup Ibu. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s