Lelaki Pengecut


Saya duduk di jok sebelah sang sopir angkutan kota saat saya membaca status facebook seorang kawan.  Ia berkisah tentang sakit ibunya yang hampir saja merenggut nyawa.  Tapi,  bukan,  bukan itu yang akan saya kisahkan. 

Kawan saya ini menempuh jalan panjang mencari pasangan hidup.  Hingga sekarang.  Saya tidak mengetahui kisah yang diretasnya dengan calon-calon sebelumnya.  Namun di kisah terakhir,  saya sedikit tahu karena ia mau membaginya.

Ini kisah cinta yang unhappy ending.  Tidak ada cerita romantis di dalamnya.  Untaian kasih terpisahkan lautan itu tak pernah berujung. 

Kisahnya harus berakhir dengan cara yang tragis.  Kekasih menghapus namanya dari contact blackberry messenger. Begitu pun di media sosial.  Semua akses yang memungkinkan menghubungkan kawan saya dengan lelaki itu,  diputuskan.

Saat kisahnya berakhir,  dia sempat bertanya pada saya.  Apa saya memang seperti yang dia katakan? 

Lelaki itu sempat mengatainya dengan kata-kata tak senonoh.  Saya sayang kawan saya ini.  Ketika ia dimabuk rayuan si lelaki,  wajahnya begitu ceria.  Saya tak tega mengungkapkan pendapat saya tentang lelaki itu.  Di akhir hubungan,  dia katakan tidak menyesal.

Iya,  buat apa menyesal.  Kamu tahu sifat dia sekarang.  Kamu ditunjukkan bahwa dia memang tidak baik untuk kamu.  Masih ada lelaki baik untukmu,  Kawan.  Dan,  mamamu pasti doakan yang terbaik untukmu.  (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s