Upacara buat Mahasiswa


Pagi-pagi saya beringsut bersiap menuju wilayah Setiabudi,  Bandung.  Dua anak saya pun belum dimandikan.  Beruntung Ibu saya selalu siap menjadi pemeran pengganti saat saya tak bersama mereka.

Kerusuhan itu terjadi karena kabar bakal datang mentri koordinator maritim yang ternyata batal.  Mungkin pikir si mentri,  ia tidak perlu datang ke acara kampus yang skalanya lokal.  Kehadiran gubernur saja cukup.

Tapi si gubernur ini gak beda dari wakilnya.  Si wakil yang bintang iklan itu jarang saya lihat nongol di media.  Atau mungkin dia itu tipe work in silence.  Jadi kerjanya gak usah diumbar-umbar. 

Kalau gubernurnya,  doyan bikin pernyataan aneh-aneh.  Kali ini,  dia menyarankan mahasiswa buat upacara tiap hari Senin.  Dia bilang rasa nasionalisme mahasiswa sudah berkurang.  Parameter nasionalisme si gubernur dari PKS itu adalah hapal lagu Indonesia Raya,  Pembukaan UUD 1945, dan Pancasila. 

‘Hapal’ inilah yang jadi masalah menurut saya.  Saya sepakat dengan rektor satu kampus swasta yang bilang di tataran perguruan tinggi itu sudah pada level implementasi.  Hapalan-hapalan nasionalisme itu harusnya sudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. 

Kalau aturan itu diterapkan,  kampus akan terganggu.  Jadwal perkuliahan harus diubah karena memfasilitasi waktu upacara.  Kampus-kampus yang di ruko mau upacara dimana? 

Belum lagi buat mahasiswa.  Ini pasti ditentang keras.  Coba diteliti deh apa urgensinya aturan itu.  Aturan dibuat itu untuk menciptakan ketentraman.  Lalu apa efek aturan itu?  Sudah dikaji?  (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s