Mister Tajir


Narji yang biasanya jadi bahan olok-olok,  setiap pagi di satu segmen acara Inbox muncul dengan setelah man in black lengkap dengan kaca mata hitamnya.  Warna putih sekelebat melintas bila Narji memperlihatkan giginya,  yang sering jadi olokan rekan kerjanya.  Di belakang,  ada sosok seperti ajudan atau bodyguard atau tempatnya orang suruhan yang menenteng koper dan memayungi Narji.

Dalam segmen itu,  Narji dipanggil sebagai Mister Tajir.  Dia akan memberikan uang Rp 2 juta apabila calon penerima mampu menaklukan tantangan Narji.  Calon penerima uang bukan asal pilih.  Klaimnya pihak televisi sudah memverifikasinya.

Inilah acara Tajir Chalenge yang diperuntukan bagi warga yang membutuhkan sumbangan.  Saya baru dua kali melihat segmen ini.  Kali pertama,  ada seorang perempuan bernama Aulia yang lumpuh layu.  Bersama ranjangnya,  dia dibawa ke atas panggung.  Usianya 22 tahun.  Ibunya yang mengurusinya.  Sementara ayahnya seorang kuli bangunan.

“Apa yang paling Aulia butuhkan saat ini? ” tanya Mister Tajir pada ibu Aulia.
“Kursi roda dan popok.”

Kursi roda dibutuhkan agar Aulia tidak di kasur melulu.  Sedangkan popok,  agar kasur tidak terkena ompol atau kotoran Aulia.  Kondisinya yang sulit bicara dan bergerak tidak memungkinkan berkomunikasi. 
image

Demi uang Rp 2 juta,  si ibu menerima tantangan jugling bola tenis selama semenit tanpa jatuh.  Kesempatan pertama si ibu gagal.  Kesempatan kedua selama 30 detik pun kembali gagal.  Lalu kamera menyoroti wajah penonton yang sembab usai menangisi kegagalan ibu Aulia.  Mereka sedih,  karena bantuan untuk Aulia lenyap.

Tangis berubah menjadi riuh tepuk tangan.  Meski tidak jadi memberi uang,  Mister Tajir menghadiahi Aulia kursi roda dan popok,  seperti yang dikatakan ibunya.

Kali kedua,  pagi kemarin lusa,  saya melihat Mister Tajir menghadirkan Tiara,  anak yang harus sering cuci darah karena penyakitnya.  Sayang saya tidak menyaksikan tantangan apa yang harus dilakukan si ayah.  Yang pasti,  gagal!
image

Inikah yang dilakukan televisi demi rating.  Mempermainkan hati yang susah demi mendapatkan uang Rp 2 juta.  Sepertinya duka,  luka,  penyakit yang merupakan sebuah ujian ditambah jadi bahan permainan.  Dan,  bila ratingnya naik,  maka stasiun televisi lain akan mengikuti program serupa.

Program-program ini ibarat bantuan instan manakala bantuan pemerintah hanya janji karena harus meniti ribuan tangga birokrasi.  Beberapa bulan lalu,  saya mengikuti sosialisasi Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan kartu-kartu lainnya.  Malahan katanya,  akan dibagikan pula chip simcard sebagai rekening ponsel bagi keluarga miskin.

Oh,  berbicara pembagian simcard,  saya jadi ingat dengan film yang baru saja saya tonton,  Kingsman:  The Secret Service.  Dalam film itu,  simcard adalah sumber malapetaka.  Simcard yang dibagikan gratis itu sengaja untuk menciptakan kekacauan dan pembantaian ras.  Hanya ras yang berduit yang memiliki uang yang akan tersisa.  Mereka membayar mahal agar selamat dari frekuensi ponsel yang mematikan.

Yang miskin,  justru saling menghabisi dipicu oleh serangan frekuensi yang membingungkan urat syaraf otaknya.  Samuel L. Jackson yang berperan antagonis sempat berkata bahwa dunia ini sudah berpenyakit.  Virus sumber penyakitnya itu manusia.  Jadi,  agar bumi kembali sehat,  maka bunuhlah virusnya. 

Dia memanfaatkan simcard ponsel untuk menandai manusia-manusia generasi baru yang rela membayar mahal untuk itu.  Dan memberikan simcard gratis bagi ‘calon virus’, manusia miskin yang akan dimatikan. 

Apa mungkin,  semua sistem yang katanya membantu orang miskin dan sakit itu hanya sebuah upaya mematikan mereka?  Tidak tahulah!  (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s