Penggasak Laci Warung


Ibu saya hanya seorang wanita biasa. Dia hanya lulusan sekolah dasar yang menikah terlalu muda. Kini dia sudah janda ditinggal mati, beranak tiga, dan bercucu dua.

Namun, meski demikian jangan diragukan keberaniannya. Seperti hari ini, tanpa rasa takut dia memergoki seorang pencuri yang hampir mencuri sebagian besar pendapatan Ibu. Sejak berhenti bekerja, pada 1993, Ibu dan Bapak berkongsi membuka warung kelontongan. Setelah Bapak meninggal, Ibu terus melanjutkan usaha itu. Peninggalan Bapak berupa dua petak kontrakan tidak akan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Si pencuri itu datang ketika Ibu sedang mencarikan obat merah untuk mengobati luka kecil akibat cakaran sendiri di kepala anak bungsu saya. Kurang dari semenit, Ibu tidak menemukan apa yang dicarinya. Ibu kembali ke warung untuk menyelesaikan pekerjaan sebelumnya yakni menyapu.

Saat kembali ke warung, dia malah menemukan seorang lelaki tengah berada di dalam warung. Ya, dia berada di dalam warung. Dekat laci penyimpanan uang. Tangannya menggenggam gulungan uang kertas yang masih berantakan.

“Kamu siapa?”

“Saya mau beli rokok, Bu,” jawab lelaki bersetelah olah raga serba merah itu.

“Kalau mau beli rokok, ngapain kamu ada di dalam warung?”

Ibu saya terus memberondongnya dengan segala pertanyaan. Pencuri itu berkilah Ibu saya tidak ada di warung sehingga dia masuk ke warung. Lalu, dia melihat ada uang terjatuh di warung. Tapi, sekali dia menyebut itu uangnya.

Ibu saya lalu memeriksa laci warung. Tersisa uang sebesar Rp 200 ribu. Ibu saya langsung marah. Dia tahu betul isi lacinya berapa. Ternyata, si pencuri sedang menggenggam uang Rp 480 ribu, uang setoran arisan.

Kesal, Ibu mendorongnya ke dalam rumah. Ia menyelidik alasan lelaki itu mengambil uang. Setelah mengancam akan melapor bila pelaku mengulangi perbuatannya, Ibu membiarkan dia pergi.

Saya berada di situ menyaksikan semuanya. Meski terkadang, sekali dua kali ikut memarahi si pelaku. Ibu saya sampai bilang profesi saya dan relasi saya agar pelaku takut.

Setelah diingat-ingat, lelaki itu kerap belanja. Dia hanya membeli dua batang rokok yang mereknya selalu sama. Sepekan yang lalu, dia juga menunggu Ibu saya untuk membeli rokok. Alasannya, Ibu saya tidak ada di warung. Padahal warung sedang ditunggui adik saya. Bahkan saat diusir tadi pun, dia keukeuh membeli dua batang rokok dan menyalakannya seketika.

Walaupun mengusirnya, Ibu terus membuntuti lelaki itu sambil memarahinya. Suaranya cukup keras, menurut saya. Tapi, tidak ada orang yang keluar dari rumah mendengar keramaian itu. Setelah orang itu menghilang, barulah sejumlah tetangga keluar dan menanyakan apa yang terjadi. Mereka bahkan bertanya kenapa Ibu saya tidak meneriakinya “maling” sehingga akan menarik perhatian banyak orang.

Anda tahu, kan, apa yang akan terjadi kalau kami melakukan itu? Tetangga akan berdatangan ke rumah kami, menarik si pelaku, memukulinya, dan yang terburuk bisa menghakiminya hingga ia terluka parah. Jujur, kami tidak seperti itu. Uang kami masih dapat diselamatkan, sehingga tidak ada alasan untuk menyakiti orang lain.

Sorenya, Pak Wawan, sang RT datang ke rumah dan mewawancarai kami. Dia memang pernah mengingatkan kejadian serupa terjadi berkali-kali tiga bulan lalu. Ciri-ciri pelaku berbeda dengan yang datang ke rumah kami. Namun Ibu saya ingat dengan orang yang dicirikan oleh Pak RT. “Mereka sama-sama kerap belanja dua batang rokok.”

Pelaku yang kami temui, berambut pendek dan ikal. Penampilan seperti orang bangun tidur. Tanpa dompet, uang secukupnya untuk membeli rokok. Saya memperkirakan, dia bukan dari kawasan yang jauh dari tempat tinggal kami. Sedangkan yang dicirikan Pak RT, pelaku berambut kuncir dan selalu memakai topi.

Terakhir, si kuncir berhasil menggasak uang Rp 700 ribu beserta dompetnya dari Ibu Yoyoh, pedagang nasi. Korban lainnya, Mamah Iil yang tidak berdagang, diambil perhiasannya ketika anaknya tengah pergi mencari ibunya atas suruhan pelaku.

Oke, semoga cerita saya ini, yang nyata ini, bisa membuat Anda lebih waspada, ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s