Musim Begal


“Kenapa belum pulang? Ini sudah malam loh!  Gak takut begal? ”

Pertanyaan seperti itu sering saya terima selama dua pekan saya pulang malam.  Memang,  saya juga menyimak berita kalau begal tengah merajalela.  Tapi,  pulang malam seperti sekarang,  hanya dua pekan saya jalani.  

Kalau mendengar kata begal,  saya malah ingat kata gerombolan dalam perspektif pemberontakan DI/TII.  Mungkin karena ibu saya yang ayahnya,  sekaligus kakek saya,  meninggal dunia di masa itu.  Cerita-cerita keganasan gerombolan,  rasanya lebih nyata dari ibu saya.

Begal,  yang sering disebut berita di televisi itu,  sebenarnya apa bedanya dengan rampok atau kawanan ‘kapak merah’ yang juga dulu sama merajalelanya? 

Mereka sama-sama mengambil hak orang lain di jalanan dengan kekerasan.  Bisa dengan cara berpura-pura kecelakaan,  mencegat,  atau langsung merampas.  Bahkan tidak jarang si begal menghabisi korbannya.  Padahal,  jumlah barang jarahan mereka tidak sebanding dengan korban yang direnggut nyawanya.

Lalu,  saat salah seorang dari mereka tewas dibakar dihakimi massa,  muncul ancaman balas dendam dari adiknya di media sosial.  Kita perlu panik? 

Saya rasa,  teror ini terlalu dibesar-besarkan.  Kalau memang adik pelaku itu menebarkan teror dan menanamkan keresahan,  ya,  sudah laporkan saja.  Biar polisi yang mengusutnya.  Saya kira polisi tidak akan diam.

Saat saya dinas di Karawang,  ada cerita tentang sebuah kampung begal.  Dongkal namanya.  Di kampung itu,  dikenal sebagai sarang begal motor sekaligus penadahnya.  Sayangnya,  saya tidak pernah berkunjung ke sana.  Salah satunya,  ada sedikit kekhawatiran saya diapa-apain.

Polisi saja sepertinya tidak sengaja ketika menemukan ratusan motor curian di desa itu.  Konon,  bila kita kecurian motor di wilayah barat,  ya,  ditadahnya di Dongkal. 

Seorang pejabat di Karawang yang kenal sesepuh begal,  sempat berkisah,  ada anak kenalannya kehilangan motor.  Kebetulan ayah si anak kenal si om kumis pejabat itu disegani sesepuh begal.  Dia minta tolong pada si om kumis.

Singkat cerita,  motornya masih utuh.  Karena menghormati si om kumis,  motor tersebut dikembalikan.  Tapi ada syaratnya.

Motor itu akan digeletakkan di pinggir sawah pada jam 11 malam.  Jangan ambil motor kurang dari jam yang diperjanjikan. 

Janji itu ditepati.  Motor ada.  Tapi orang yang meninggalkan motor itu tidak tampak.  Rupanya dia bersembunyi mengawasi.

Si om kumis pernah menirukan ucapan sesepuh begal.  Motor yang dicuri itu tidak sembarangan.  Tipe yang dicuri,  sesuai pesanan.  Bila lagi tinggi harga Yamaha Mio misalnya,  ya,  yang banyak dicuri jenis itu.  Atau kalau tidak laku,  tinggal dipreteli suku cadangnya.

Jadi kira-kira maraknya begal ini,  pesanan siapa?  Ada yang tahu?  (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s