Bencana Perempuan Kurang Waras


Saya tidak berangkat terlalu pagi, hari itu. Padahal acara yang harus saya hadiri dimulai pukul 9 pagi. Saya memilih berangkat tepat di saat acara itu dimulai. Toh, saya bukan ketua panitia yang membuka acara ataupun pemateri yang memberikan paparan di acara yang seharian itu.
Itu pula yang menjadi alasan saya tidak menggunakan jasa ojek untuk mengantarkan saya ke lokasi. Naik angkutan umum saja. Berganti tiga kali angkot tidak akan terlalu melelahkan. Lagi pula saya ingin mencoba coco’oan baru saya. Yah, aplikasi lama yang tidak pernah saya pakai. Aplikasi keren yang akan saya ceritakan di lain kesempatan.
Kembali ke soal angkutan umum, saya sengaja duduk di sebelah sopir. Pemandangan selalu tampak lebih baik dari sudut ini.
“Perempuan itu gila, Bu! Tapi, kok, ada orang yang tega buntingin?”
Tiba-tiba sopir itu membuka percakapan yang membuat saya terkesiap. Seketika, pandangan saya tertuju pada perempuan yang dimaksud si sopir angkot.
Usia perempuan itu, saya perkirakan kurang dari 20 tahun. Ia mengenakan celana selutut dan atasan yukensi. Tapi, kepalanya dibalut kerudung. Saat berjalan, ia seperti bercakap-cakap dengan sesorang. Sesekali, dia tertawa lepas.
Memang perempuan itu tampak jelas kurang waras. Saya iba melihatnya. Tapi tidak dengan lelaki yang menghamilinya. Manusia bejat itu malah tega meluapkan birahinya terhadap perempuan itu. Berbagai pertanyaan di kepala saya. Tidak adakah perempuan sebagai istri atau pacar tempat ia melampiaskan nafsunya. Atau, dia tidak sanggup membayar pekerja seks komersial (PSK).
Tidak tanggung-tanggung, dua kali dia dihamili.
“Terakhir ketemu, perutnya buncit banget. Eh, sekarang udah buncit lagi,” sambung si sopir jurusan Cimahi-Leuwipanjang itu.
***
Bacaan saya di Tempo.co, Komisioner Komisi Nasional Perempuan Saur Tumiur mengatakan negara ini sedang berada dalam kondisi darurat kekerasan terhadap perempuan. Pasalnya, angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun. “Fenomena gunung es ini sangat mengkhawatirkan,” kata Saur dalam diskusi catatan akhir tahun Komnas Perempuan di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2015.

Data Komnas Perempuan pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus. “Malah sejak 2010, angka ini selalu menunjukkan tren meningkat,” kata dia.

Pola yang terjadi selama ini, kata Saur, masih didominasi kekerasan dalam rumah tangga dan relasi personal sebanyak 68 persen, dan kekerasan yang terjadi dalam komunitas sebanyak 30 persen. “Ini menunjukkan rumah dan lingkungan seperti tempat kerja, masih tidak aman bagi perempuan,” kata Saur.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s