Psikolog Galak


Perjalanan saya di suatu Selasa pagi cukup panjang. Semula saya akan datang ke sebuah sekolah bilangan Antapani untuk mengklarifikasi terjadinya kebocoran kunci jawaban saat Ujian Nasional SMP. Niat itu saya urungkan ketika sebuah pesan singkat tiba saat saya sudah berada di Cicadas.

“Anak-anaknya sudah bubar, Bu,” isi pesan singkat dari kepala sekolahnya.

Tanpa perlu berpikir panjang, saya langsung berganti haluan ke sebuah hotel di Jalan PHH Mustofa. Ada acara parenting yang memang sudah diagendakan dari beberapa hari lalu.

Tidak sampai setengah jam, saya sudah tiba di hotel itu. Tempatnya tampak begitu geueuman. Mengikuti petunjuk arah, saya berjalan ke arah belakang hotel. Di situ disebutkan itulah ruangan front office, dimana saya bisa bertanya lokasi tepatnya acara parenting itu.

Ternyata, ballroom tempat acara berada di posisi paling depan gedung, yang tadi saya lewati. Singkat kata, saya sampai di acara. Mengisi buku tamu, lalu masuk ke ruangan. Di sana saya langsung mencari teman-teman saya yang sudah datang lebih dulu.

Saya pasang lensa kamera saya. Saya setting dengan flash lalu ditembakkan pada dua teman saya. Keduanya tidak kaget. Malah saya yang kaget karena ada seorang panitia yang menghampiri saya.

Dia meminta saya berhenti memotret. “Ini pesan dari pembicara agar tidak memotret materi yang dipresentasikan,” katanya.

Rupanya pembicara yang psikolog senior itu tipe orang yang pelit informasi. Ia melarang orang yang ada di ruangan itu merekam atau memotret isi presentasinya. Ia bahkan tidak memberikan makalah yang dipresentasikannya. Yang diberikannya hanya berupa pertanyaan yang harus dijawab orang tua yang menjadi peserta dalam acara itu.

IMG_20150505_111049

Ternyata di era kekinian ini, masih ada, ya, orang yang masih berpikir ilmunya untuk dirinya sendiri. Mungkin dia berpikir, kadar pemahaman setiap orang sama sehingga dapat mencerna apa yang disampaikannya. Mungkin dia juga lupa, kalau ada tipe orang yang masuk kuping kanan ke luar di kuping kiri alias saat habis acara, ilmu yang diterima turut menguap.

Ini bukan kali pertama saya berhubungan dengan sang psikolog. Tapi baru kali ini saya kopi darat. Jujur, saya jadi kurang hormat dengan sikapnya kali ini.

Bagi saya, ilmu akan berguna kalau dibagikan dan diamalkan. Menahan ilmu untuk diri sendiri, hanya akan membuat seseorang tampak angkuh.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s