Cari Uang


“Ambu mau kemana?”

“Kerja dong!”
“Ihhh… Ambu jangan kerja. Di rumah aja.”
“Lah, kamu kan jajannya banyak. Ambu cari uang untuk bayarin jajan Inan.”

Kebetulan di rumah, banyak lewat pedagang.  Mulai dari mba jamu gendong di pagi hari.  Agak siangan,  tukang agar-agar. Sekitar jam 2, tukang es krim dan sate bergiliran. Sore hari,  bagian tukang cuankie.  Belum lagi,  jajanan dari warung si Ibu.

“Ambu tidak usah kerja,” ucapan ini selalu dilontarkan Kinan di pagi hari sebelum saya pergi bekerja.

Jika sehari tanpa drama ini rasanya ada yang kurang. Tapi, sekarang ada sedikit revisi dalam permintaannya. Kinan menjadikan ini semacam ritual wajib saja sebelum saya pergi bekerja. Rupanya dia tahu saat ini Ambunya harus bekerja dulu. Sebagian besar harinya dihabiskan bersama neneknya.

Revisi itu berupa tambahan cium pipi kiri dan kanan, plus sun tangan saya pertanda ia mengizinkan saya berangkat kerja. Tapi pernah sekali waktu percakapan larangan kerja itu agak memanjang dan diakhiri dengan ledakan tawa kami sekeluarga.

“Kinan, Ambu kerja itu untuk cari uang,” kata saya.

“Kalau cari uang, enggak usah kerja. Ambu ke ATM saja.”

Jawabannya tidak salah. Konklusi itu merupakan premis dari aktifitas saya yang terkadang membawa Kinan masuk ke ruang ATM. Di situ rupanya dia memperhatikan yang terjadi. Dari mulut ATM itu keluar uang, sehingga betul, untuk cari uang, cukup datang ke ATM. Kamu semakin pintar! We really proud of you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s