Balada Nasi Kotak


Entah sejak kapan saya memiliki kebiasaan membawa pulang nasi kotak dari suatu acara. Sehingga, di tas, saya selalu menyelipkan kantong dari kain untuk menampung nasi kotak itu. Ada sedikit risih ketika bawaan kita tampak karena bungkusannya transparan.

Sebagai pekerja lapangan, saya tidak boleh melewatkan sarapan. Meskipun biasanya di acara-acara yang saya hadiri, disuguhi makanan dan minuman, tapi sarapan sudah jadi kewajiban. Demikian juga makan siang, tidak boleh sampai terlambat. “Pokoknya jam 12 siang, harus disempatkan untuk makan siang,” prinsip saya.

Jadi jangan kaget, bila kadang di tas saya ada makanan yang dibungkus. Makanan itu baru agak saya lupakan bila jamuan makan siang berupa prasmanan. Buat saya lebih berasa dihargai sebagai tamu dengan cara demikian. Dalam pandangan saya, ketika tamu yang hadir diberikan nasi kotak agar kurang mengena. Mungkin, ya, mungkin, ini saya artikan seperti ini. “Ini makanan untuk kalian, terserah mau dimakan dimana,” seperti itu. Jadi kalau memang lapar, lebih baik saya sengaja mampir di warung makan dan membawa pulang nasi kotaknya.

Kebiasaan saya ini rupanya yang “menyelamatkan” saya dari petaka keracunan. Begini ceritanya, beberapa waktu lalu, saya dan rekan-rekan wartawan lainnya diundang untuk menghadiri konperensi pers dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Sebelum acara, kami disuguhi nasi kotak yang ternyata sama dengan sajian para tamu di Dome, tempat diselenggarakannya wisuda yang dihadiri menteri. Setelah acara, kami pulang.

Ternyata keesokan harinya, ada kabar puluhan orang keracunan. Diduga berasal dari makanan yang dihidangkan. Lalu hari ini, seorang teman cerita, ada teman kami yang juga keracunan. Saya jadi ingat pernah bercerita ini dengan ibu saya beberapa hari yang lalu. Ibu saya terperangah. Pasalnya ialah yang selalu mendapat jatah menghabiskan nasi kotak itu. Dia mungkin kaget karena ‘seharusnya’ dia ikut keracunan. Tapi bersyukur, Ibu saya baik-baik saja sampai sekarang.

Kejadian ini semakin mengukuhkan saya untuk tidak menyantap nasi kotak. Selain memiliki buah tangan untuk Ibu saya sepulang kerja, saya juga bisa mengurangi makan. Padahal, tetap saja tidak ada yang berkurang. Yang pasti, kalau makan bayar itu rasanya lebih nikmat, ha ha…(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s