Luar Kota


Satu waktu di Minggu malam, sebuah pesan singkat hinggap di telfon genggam kerja saya. Karena itu telfon kerja, maka isinya pun tidak jauh dari soal pekerjaan.
Sebenarnya, telfon genggam saya hanya dua. Satu untuk keperluan telfon, sms, chatting, dan baca surat elektronik. Yang satunya lagi, untuk kebutuhan transfer foto. Ponsel yang satu itu memang dilengkapi dengan perangkat on the go (OTG).
Kembali ke soal kiriman pesan singkat, rupanya itu dari humas sebuah kampus yang telah mengagendakan waktu wawancara dengan rektor barunya. Buat saya, ini sangat mendadak. Mengingat baru beberapa waktu lalu, pembicaraan saya dengan penanggung jawab halaman terkait yang menunda wawancara hingga proses pelantikan kelar. Berbeda dengan rektor baru di beberapa universitas lain yang berdomisili kerja di kampusnya, sehingga tidak sulit ditemui. Tapi yang satu ini, karir terakhirnya di Jakarta, hingga sebelum pelantikan, ia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Saat itu, saya sedang menikmati menghabiskan waktu bersama dua bocah di kampung halaman suami. Libur panjang itu saya manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Maklum sejak pindah ke liputan harian, aktifitas saya tiada hari tanpa liputan.
Oleh karena itu, ketika pesan singkat itu datang, segera saya menolak dan mendelegasikan pekerjaan ke halaman terkait. Beruntung, penanggung jawab halamannya tidak keberatan dengan mangkirnya saya tersebut. Alasan saya sedang di luar kota bisa diterima.
Ternyata, alasan saya itu berbuntut panjang. Atasan direct saya menanyakan hal itu. Biasanya, saya yang selalu mewawancarai rektor baru meski nantinya dimuat di halaman lain.
“Kamu katanya ke luar kota. Kemana?”
“Ke Lembang.”
Jawaban saya membuat atasan saya menggaruk kepala. Saya bilang, pertanyaan itu sudah saya prediksi akan datang pada waktunya. Dan, saya pun sudah menyiapkan jawabannya.
Secara geografis, Lembang yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, kan, memang tetangga Kota Bandung. Artinya, berada di luar kota. Jadi saya tidak berbohong dengan alasan itu.
Lagipula saat itu merupakan waktu yang tepat bagi saya membuat KTP ulang. KTP elektronik saya raib entah kemana. Bukan, bukan dicopet Ubed, Saef, atau Junaedi. Dompet saya diacak-acak bocah. Salah satu kartu yang hilang, ya, KTP.
Di hari biasa, saya tak mungkin sempat ke Pemda Bandung Barat. Kebetulan kemarin libur untuk kerja saya, maka saya manfaatkan itu. Tidak repot ternyata. Cukup buat surat kehilangan, datang ke Dinas Kependudukan, mengantre, lalu dapat KTP lama yang baru. Soalnya data yang dulu sudah direkam. Jadi tinggal dicetak ulang. Saya pikir akan difoto ulang. Boro, saya sudah memulas bibir dengan lipstik Wardah terbaru no. 44.v
Itulah laporan saya selama berada di luar kota. Hanya menemani suami, mengasuh bocah, bikin KTP, dan menyetrika. He he..(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s