Misteri Angeline


Menyimak pemberitaan kasus Angeline di sejumlah kanal berita, bikin gatel tangan ini ikut menuliskan komentar. Kalem, komentar saya tidak akan berkaitan dengan dugaan pelakunya. Toh, saya tidak pernah melihat lokasi kejadian perkara. Atau wawancara pada saksi dan tersangka.
Saya cuma ingin beropini tentang langkah-langkah proses penanganan perkara yang dipublikasikan media. Memang, polisi tidak akan buka-bukaan tentang proses penyidikan. Tapi “si ember” selalu ada. Akibatnya, pemberitaan saya rasa menjadi bias dan tidak berpijak pada hukum positif.
Pemberitaan motif tersangka memang akan menyedot perhatian pemirsa. Tapi, ketika pemberitaannya sakahayang, jadinya malah mengacaukan sistem hukum peradilan pidana.
Di pemberitaan seolah-olah kepastian pelaku, modus, dan motif hanya dikejar dari Agus. Ketika keterangan Agus berubah-ubah, ada ide entah dari polisi atau siapa, maka Agus akan diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan.
Seharusnya penyidik mencari barang bukti yang tidak mungkin disanggah pelaku. Ketika kecurigaan mengarah pada Agus atau ibu angkat Angeline, Margareith, maka carilah bukti yang mendukung asumsi. Tapi jika tidak, ikut barang bukti itu menunjuk siapa.
Menurut saya, sih, petunjuk awal bisa diselidiki dari pembuatan fan page pencarian Angeline di Facebook. Penyidik bisa mencecar keluarga yang mengangkat Angeline mulai dari pembuatnya, sang kakak angkat. Dari situ dapat diketahui alasan tidak segera melapor ke polisi dan kebiasaan Angeline sehingga muncul dugaan dia hilang karena diculik.
Tempat kedua, sekolah Angeline. Dari sekolah, dapat diketahui kebiasaan Angeline yang mungkin ditutup-tutupi oleh keluarganya. Tidak heran, kan, di awal muncul dugaan dia ditelantarkan itu merupakan pernyataan dari pihak sekolah.
Tempat ketiga yang mesti diselidiki adalah rumah ibu angkat Angeline dimana mayatnya ditemukan.  Penyidik bisa menemukan banyak barang bukti yang mengaitkan Angeline dengan pelaku.
Soal motif, di beberapa berita disebutkan Agus sakit hati karena omongan Angeline. Satu waktu, kata si Agus, Angeline menyampaikan perkataan ibu angkatnya tentang kerja Agus yang buruk. Agus kesal dengan omongan itu. Duh, Gus, dia itu cuma bocah. Masa sakit hati sama omongannya. Namun sepanjang pemeriksaan, Agus terus berubah pengakuannya. Mulai dari membunuh dan memerkosa, lalu hanya disuruh mengubur dengan imbalan Rp 2 miliar dari Margareith, hingga menuduh orang lain yang mengeksekusi.
Entah karena kesal dibilang penyelidikan lambat atau memang tidak ada petunjuk lain, polisi lalu mengatakan akan memeriksa Agus dan Margareith dengan lie detector. Saya pikir itu tidak perlu. Bukankah pemeriksaan itu didasarkan asas praduga tak bersalah? Di pengadilan pun, pengakuan terdakwa tidak merupakan hal pokok. Itu dianggap sebagai hal meringankan. Toh, di pengadilan terdakwa diberikan hak ingkar. Mau berbohong juga, sabodo teuing!
Terpenting sekarang polisi harus mencari bukti yang cukup untuk pemberkasan yang lengkap. Meskipun ini nantinya mengarah pada pembunuhan yang berencana, tapi belum tentu sempurna. Temuan mayat Angeline cepat lambat akan menunjukkan pelakunya. Bukti itu masih menunggu untuk ditemukan atau diungkapkan. Atau nanti muncul sendiri. Semoga…(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s