Margareith Pembunuh Angeline, Puas?


Sejam lebih saya duduk di ruang tunggu poli kandungan. Jadwal cek KB saya terlambat dua bulan. Tiba-tiba semua yang berada di ruang tunggu mendongak melihat tayangan televisi.
Rupanya, berita Angeline lagi-lagi menarik perhatian. Berita kali ini mungkin akan disambut sorak-sorai yang menuding otak pembunuhan Angeline adalah ibu angkatnya, Margareith. Agus, kata kuasa hukumnya, mengaku bahwa Margareith-lah yang membunuh Angeline. Dalam pengakuan Agus, Margareith saat itu memanggilnya ke kamar yang ternyata sudah nyampak Angeline yang terbaring. Entah masih bernyawa atau tidak.
Oke, sejenak kita fokus pada Margareith. Anggap Agus benar, lalu apa yang telah dilakukan Margareith hingga Angeline terbaring?
Polisi nantinya akan menemukan dua peluang, apa itu memang pembunuhan berencana atau pembunuhan spontan. Tapi kalau mempercayai pengakuan Agus, mungkin itu pembunuhan spontan. Atau mungkin penganiayaan?
Agus atau Margareith, mungkin tidak tahu apa Angeline masih bernyawa atau tidak. Kalau masih hidup, Margareith kalau sampai disidangkan mungkin kena pasal penganiayaan. Mungkin.
Namun kalau itu sebuah pembunuhan, polisi harus menemukan rangkaian peristiwanya mulai dari persiapan pembunuhan hingga pelenyapan jejak pembunuhan. Karena, pelaku pembunuhan berencana pasti akan mendesain sesempurna mungkin.
Hal yang tak kalah penting, motif dari tindak pidana itu. Bila benar itu karena warisan, maka polisi harus menelusuri dari wasiat ayah angkat Angeline.
Yang dikhawatirkan adalah upaya kuasa hukum Margareith yang mungkin memakai Pasal 44 KUHP sebagai alasan pemaaf. Dengan segala daya upaya, Margareith akan dikondisikan mengalami gangguan jiwa. Walau saya yakin dokter kejiwaan tidak bisa dikibuli.
Nah, kembali ke Agus. Ingat Agus masih berstatus tersangka. Ia akan menyeret siapa pun untuk menggantikan posisinya. Bisa lelaki yang berinisial AA atau Margareith. Sekali lagi, bila mempercayai pengakuan Agus bahwa Margareith adalah pembunuh utama Angeline, Agus tetap akan dikenai sanksi. Minimal ia didakwa dengan pasal perbantuan, Pasal 55.
Atau lebih buruk lagi, Agus melakukan tindak pidana pembunuhan tidak disengaja. Siapa yang tahu saat itu Angeline masih hidup. Dia tewas karena dikubur. Siapa yang tahu, kan?
Oh ya, opini saya soal kasus Angeline bersifat pribadi. Saya anggap ini cara saya mengingat apa yang saya pelajari selama kuliah. Dengan pekerjaan saya saat ini, jarang saya kembali membuka buku-buku hukum pidana. Jadi, ketika ada kasus seperti ini saya antusias menyimaknya. Dan berharap, kupasan pemberitaan tidak jadi inspirasi untuk calon pelaku menciptakan tindak pidana yang sempurna. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s