Bergaul dengan Anak Nakal


“Nak, kamu jangan maen sama si itu dan si anu ya! Mereka tuh anak nakal.”
“Tuh, kan, Nak, kamu jadi nakal gara-gara maen sama mereka!”

Pernah enggak ibu-ibu ngebilangin begitu sama anak. Ya, anak yang umurnya kurang dari tiga tahun, yang entah mengerti dengan maksud omongan kita. Saya rasa, semua ibu mungkin pernah mengalaminya.

Seminggu terakhir, saya lumayan sering merapal kalimat-kalimat itu. Orang tua mana, sih, yang tidak menginginkan memiliki anak yang ‘penurut’. Ketika anak ‘nakal’, perlu orang lain yang disalahkan. Ini bab pelajaran terbaru saya di kurikulum si Cikal.

Namun, penyesalan memang selalu datang terakhir. Setelah mengucapkan kalimat itu, saya lalu berpikir keras mencari solusi agar si anak main di lingkungan yang baik dengan anak yang tidak menjerumuskannya menjadi anak ‘nakal’.

Oke, teman anak saya usianya lima tahun. Di hari pertama berteman, ia mengajak anak saya main di kamar dan loncat-loncat di atas kasur. Lalu, mengoprek semua barang. Yah, namanya juga anak-anak. Tapi kalau dilakukan oleh anak orang lain, kesalnya jadi dobel.

Di lain waktu, anak saya main terlampau jauh. Ternyata, dari pengakuan anak saya yang mengajaknya, ya, anak itu. Tambah kesel saya. Dan yang paling bikin bete, dia mengajak anak saya main jam 7 pagi.

Terakhir, dia mengajak anak saya masuk masjid dan mengoprek sound system di dalam. Bagaimana kalau mereka kesetrum?

Saya dan ibu saya yang lebih banyak menjaga anak ketika saya bekerja, berupaya membatasi gerak anak saya. Setiap hari saya berdoa agar anak itu tidak datang mengajak main anak saya. Tapi, anak itu selalu nongol.

“Nan, aku pulang, ya?”
“Jangan!”

Kalimat kojo itu bikin anak saya mengikuti omongan anak itu. Ucapan saya tidak didengarkan. Kesel maksimal jadinya. Tambah lagi, kalau anak itu main kelamaan, tidak ada yang mencarinya. Seolah-olah anak itu bisa pulang semaunya.

Padahal anak saya memiliki teman main yang lain, yang saya rasa lebih baik. Teman yang satu ini selalu didampingi ibunya bila bermain di rumah saya. Jadi, lebih terkendali.
Tapi sepertinya anak saya memang memerlukan hal lain yang lebih menantang. Hal lain yang menantang saya untuk bisa menaklukannya.

Yang paling mengesalkan, sih, ketika anak saya bermain dengan anak nakal itu, dia pernah berucap, “Eh, kata Ambu aku, aku gak boleh main sama kamu. Kamu nakal!”

Tapi, saya tidak boleh menyerah. Pelajaran masih belum usai. Saya masih harus mencari referensi untuk memuaskan rasa ingin tahu anak saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s