Biarkan Mereka sesuai Masanya


Sore sepulang kerja, Ibu saya tiba-tiba memiliki ide yang menakjubkan. Dia menawari anak cikal saya masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kontan, saya bertanya apa alasannya.

“Kata Mamah Tasya (tetangga), enggak ada kerja begini mah lebih baik antar jemput anak ke PAUD saja.”

Jawaban Ibu saya itu tidak membuat saya langsung memberikan keputusan. Bagi saya, menitipkan anak meskipun hanya satu jam di sebuah institusi pendidikan perlu dipikirkan secara matang. Saya lebih percaya pendidikan keluarga lebih baik bagi si Cikal yang usianya baru tiga tahun.

Berkaca dari pengalaman sejumlah orang tua yang “menyekolahkan” anaknya di PAUD ternyata bukanlah arena bermain anak semata. Ada “pelajaran” berhitung, membaca, dan menulis. Saya sengaja menekankan kata menyekolahkan dan pelajaran karena anak memang dipaksa untuk belajar. Mereka tak menemukan suasana menyenangkan di kelas. Ya, aktifitas lebih banyak di kelas. Hal menyenangkan hanya saat jam istirahat dimana mereka bisa jajan dan lari-lari sepuasnya.

Orang tua dan sekolah tidak sepenuhnya paham apa yang dibutuhkan oleh si anak. Ada kebanggaan ketika anak dapat membaca, menulis, dan berhitung. Untuk sekadar mengenal, sih, tidak mengapa. Tapi kalau sampai dibebankan jadi pekerjaan rumah, maka rumitlah perjalanan hidup yang harus dihadapi anak batita ini.

Sementara ini, saya bertahan pada pilihan saya: membiarkan anak bermain sepuasnya. Tidak apa rumah berantakan, makan belepotan, karena itu bagian dari belajar. Mungkin saat usia enam tahun baru saya berpikir lagi memilih taman kanak-kanak yang cocok dengan anak-anak. Untuk membaca, menulis, berhitung, cukup di sekolah dasar tempatnya.

Bukannya pengasuhan ala Rosulullah mengajarkan agar anak menjadi raja hingga usianya 7 tahun. Dan di 7 tahun berikutnya, anak harus mengikuti aturan main orang tua dan keluarganya. Buah dari kerja keras pendidikan di 7 tahun kedua itu akan dirasakan pada 7 tahun ketiga usianya. Maka, anak kita akan menjadi anak bahagia yang tidak perlu dewasa di masa kanak-kanak dan kanak-kanak di masa dewasa. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s