Hujan


Hujan. Tak berhenti. Payung rusak. Tak ada jalan lain, yakni menunggu reda.
Hujan. Seringkali membangkitkan kenangan. Tapi tak jarang tiba-tiba membuat patah arang.
Ya, saat hujan saya berpikir keras, sudah memberikan makna apa yang telah saya lakukan selama ini. Pada orang tua, suami, anak, keluarga, dan masyarakat.
Ya, saya berupaya memberikan yang saya mampu. Meski bukan yang terbaik.
Pada anak dan suami, yang sering kali balap-balapan dengan pekerjaan. Rasa bersalah saya begitu besar saat saya merasa pekerjaan terlalu dominan mengendalikan hari-hari saya. Tapi, saya tidak tahu kapan garis akhirnya, yang sebenarnya saya sendiri yang menentukan.
Duh, rintik hujan yang bertubi-tubi mengenai kepala saya, menarik ribuan pertanyaan yang akhirnya membuat saya disorientasi pada pekerjaan saya.
Saya mungkin sedang galau. Sedang ingin memeluk anak dan suami agar kegalauan itu musnah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s