Melanjutkan Hidup


Pagi ini, di angkutan umum, saya kembali jadi penguping. Menyimak obrolan dua orang ibu berkisah tentang suaminya yang telah meninggal. Kisah bagaimana mereka berupaya melanjutkan hidup.

Ibu yang lebih tua sesekali menahan tangis ketika menceritakan suaminya yang baru meninggal beberapa bulan lalu. Melepaskan itu memang sulit katanya. Ia harus ikhlas ditinggal belahan jiwanya. Ia menjadi tulang rusuk yang rapuh.

Suaminya meninggal karena stroke. Dirawat berminggu-minggu di rumah sakit. Sang suami tidak mampu bergerak dan berbicara. Komunikasi hanya dengan kedipan mata.

Suami yang mungkin sudah sadar ajalnya kian dekat selalu mengucurkan airmata usai istrinya memandikannya. Bahkan saat masih sanggup berbicara, untaian kata maaf, selalu disampaikan pada istrinya.

“Bosen ngedengernya,” katanya.

Sebetulnya bukan bosan. Hatinya terluka mendengar kata maaf itu yang berarti waktu perpisahan yang akan segera datang.

Meski berat, di setiap doanya, disisipkan permintaan pada Tuhan untuk mencabut penyakitnya atau membawanya ke sisi-Nya. Doa yang kadang disalahkan oleh anak-anak. Perpisahan itu akhirnya datang. Si istri berusaha tegar.

Ia mungkin tidak menampakkan kesedihannya. Tapi kesedihan itu sulit dihilangkan. Ia terpaksa agak menghindar dari pertemuan keluarga. Pertemuan itu hanya akan menguak kenangan suaminya yang membuatnya sulit untuk ikhlas. Ia memilih bepergian keliling Bandung. Hanya untuk ngabeberah manah.

Ia tak peduli apa omongan orang. Tapi, ini caranya mengikis pedih dan melanjutkan hidup. Ia mengenang sang suami dengan caranya sendiri.

Perempuan yang lebih muda memang lebih banyak diam. Tapi dari sedikit kisahnya, nasibnya sama. Sang suami meninggalkannya pergi menghadap Pencipta. Ia mesti melanjutkan hidup dengan bekerja jauh lebih keras demi anak-anak. Kesedihannya teralihkan untuk mencari nafkah.

Perempuan yang lebih tua, mengatakan setiap perempuan berhak melanjutkan hidup. Berhak bahagia dengan pilihannya. Ia berpesan lada perempuan muda itu, bahwa ia berhak kembali bahagia. Bahwa Tuhan masih menyiapkan jodoh berikutnya untuk dia. Maka bersiaplah menyongsong bahagia. (AB)***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s