Hening


Terlalu hening angkutan umum yang saya tumpangi pagi ini. Tidak ada kisah yang terucap dari mulut para penumpang. Mereka larut dalam kisah masing-masing yang dibalut sepi.

image

Hanya empat penumpang termasuk saya yang tersisa. Semua memeluk erat tasnya. Di ujung belakang sopir, ada seorang perempuan disanggul cepol yang selalu melamun. Ia menghentikan laju angkot di depan Unisba. Di sebelahnya, ada ibu pegawai negeri yang kerap menyelipkan jari di sela-sela rambutnya. Ia turun di Cipaganti.

Penumpang yang turun setelahnya, seorang perempuan berkerudung biru. Selain mendekap tas kulit imitasi berwarna merah, ia pun menggenggam pegang kantor keresek hitam dengan tangan kirinya. Entah apa isinya. Sepanjang perjalanan ia terlena dengan musik yang didengar lewat earphone dari ponsel iPhone.

Dia turun bersamaan dengan seorang gadis muda di depan kampus Unpas. Oh iya, gadis muda ini hanya menumpang sejauh 100 meter. Mungkin ia tipikal orang yang bersedekah di angkot.

Sekarang saya penumpang solo di angkot ini. Pagi ini, malas sekali ditemani musik penyanyi jalanan sekali pun. Saya hanya ingin hening ini tetap hening. Biar deru mesti saja yang menemani. (AB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s