Pay It Forward


Dunia ini ini memang kejam. Bahkan terlalu kejam. Lihat saja berita di media massa dan elektronik yang menunjukkan keterpurukan ekonomi di dunia. Banyak orang baik mungkin berubah jadi scumbag. Pembunuhan, perampokan, dan teror jadi menu harian.

Tidak sedikit juga yang pesimis dengan perubahan. Seperti mi instan, mereka ingin melihat perubahan signifikan dalam waktu lima menit. Dibiarkan lama, layaknya mi instan, akan menjadi beukah.

Namun, di sisi lain, percayalah masih banyak orang baik di dunia ini. Yang membagi kebaikan tanpa mengharapkan pamrih. Karena mereka percaya, balasan kebaikannya itu akan datang dari orang lain. Bukan dari orang yang ditolongnya.

Ingat film Pay It Forward? Ketika seorang anak menggulirkan gerakan pay it forward, dimana kita membalas kebaikan orang lain kepada orang yang lain lagi. Yang tidak menolong kita.

Kemarin, saya mengamati dua anak sekolah kejuruan yang sedang magang di sebuah institusi. Satu anak menawarkan anak yang satunya untuk makan siang bersama. Karena ternyata si anak tidak membawa bekal. Mungkin awalnya ia mengira, di tempat magangnya akan diberikan makan siang. Nyatanya tidak. Ia pun mesti menahan lapar.

Padahal, ia bangun dari jam 4 pagi, lalu pulang magang jam 4 sore. Membeli makan siang di luar bukan opsi yang baik. Bisa jadi dia akan pulang ke rumahnya di Pasar Cijerah dengan berjalan kaki. Namun, Tuhan Maha Baik, karena saat pulang itu, teman magangnya membayar sebagian besar ongkos angkutan kota. Dia hanya perlu menambah seribu rupiah.

Kebaikan itu tidak perlu berupa materi. Sebuah ajakan agar seseorang tidak perlu tersesat juga adalah kebaikan. Seperti tadi siang ketika Ibu dan anak perempuannya harus pulang ke Majalengka setelah berobat mata ke Rumah Sakit Cicendo. Informasi awal, mereka harus ke Terminal Kebon Kelapa lebih dulu untuk melanjutkan naik bus Damri ke Terminal Cicaheum.

Beruntung mereka bertemu seorang ibu tua yang rela berbagi informasi mencari rute yang lebih pendek menuju Terminal Cicaheum. Ia menyarankan Ibu dan anak itu turun bersamanya di Jalan Naripan. Kebetulan dia akan ke Cibiru. Sehingga mereka bisa bersama-sama naik bus yang sama. Apalagi mereka harus kembali ke Bandung esok hari untuk kembali berobat. Tak ada kerabat yang dapat menampung mereka selama berobat di Bandung.

Lihatlah, masih banyak, kan, orang baik di dunia ini. Lupakan keberadaan para bajingan itu. Bajingan yang duduk di kursi pemerintahan, yang mengaku representasi rakyat, yang mengaku aparat penegak hukum, atau teman terbaik. Orang baik akan selalu ada. Terutama untuk orang yang baik. (AH)***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s