Makan Sendiri, Salah?


MENUNGGU itu memang hal yang membosankan. Apalagi kalau sudah janjian. Tetap saja membosankan.

Meski sudah janjian, saya pasti akan berupaya mengonfirmasi rencana itu beberapa saat sebelumnya. Tapi, kalau responnya lambat, saya pilih aktifitas lain lebih dulu.

Hari ini, aktifitas yang saya pilih itu: makan. Kenapa makan? Karena waktu hampir menunjukkan jam makan siang. Dari pada saya pingsan karena salatri (walau tidak pernah sampai terjadi), lebih baik saya cari tempat makan. Lokasinya, tentu, harus berdekatan dengan lokasi tujuan saya sebelumnya.

Nah, seusai makan, dan mendapat konfirmasi kepastian janji temu, saya langsung berjalan kaki ke lokasi. Hari ini, saya menenteng jus mangga yang saya pesan saat makan tadi. Tiba di ruangan orang yang akan saya temui, dia bertanya saya makan sama siapa. Saya jawab, sendiri. Lalu, dia agak molohok.

IMG_20131128_171812

Ini bukan pertama kali saya melihat respon orang seperti itu ketika mengetahui saya makan sendirian. Saya jadi mikir, dong, memangnya salah kalau makan sendirian. Mungkin kalau candle light dinner sendirian akan tampak aneh. Di restoran pula, suasana romantis, lalu dihabiskan sendirian. Ya, pemandangan itu akan sangat salah.

Tapi, kalau saya, sih, karena rasanya tak mungkin candle light dinner, mungkin tidak aneh makan sendirian. Jujur, setiap hari pilihan tempat makan saya, ya, yang saya inginkan. Dan, makan dengan siapa itu tidak jadi pertimbangan. Ada yang mau bareng, ya, bayar masing-masing, dong!

Tidak jarang juga saya dipandangi orang di restoran, bila datang, duduk, dan pesan makanan hanya untuk seorang diri. Catat, ya, restoran itu tempat makan dan minum. Bukan tempat ngobrol lalu wefie.

Malahan saya dan suami seolah-seolah punya kesepakatan informal berkaitan makan. Buat kami, siapa yang mengajak, dialah yang membayar. Hingga pernah suatu kali, saya meskipun lapar, ogah mengajak duluan. Biarlah si suami yang ajak, karena nantinya pasti dia yang akan bayar. Norak dan kejam? Iya, sih, sampai menahan lapar. Demi…

Memang ada sebutan “diplomasi meja makan”, dimana usai makan, maka akan terjadi kesepakatan. Tapi, buat saya itu kurang berlaku. Buat saya, makan itu harus dengan niatan murni menutup rasa lapar. Kalau saya lapar, dimana pun itu, tak perlu berpikir makan dengan siapa, ya, saya makan. Atau, ketika saya mengingkan makanan tertentu, saya akan memburunya. Sendiri, tanpa berpikir itu akan jadi masalah.

Jadi, kalau lapar, hajarrrr bleeehhh!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s