Nebeng Beken di Frekuensi Publik


Selama saya berlangganan Indovision, saluran anak yang disukai kedua anak saya yaitu Kids Channel. Saluran itu menayangkan serial Larva dan Alien Monkey.
Dulu, di saluran ini, tidak ada tayangan lagu partainya Harry Tanoe. Mungkin lagunya belum diciptakan, ya. Tapi sekarang, tiap selesai acara, menu lagu yang diputar, kalau enggak lagu alumni Idola Cilik, ya, lagu Mars Harry Tanoe.
Dua anak saya hapal dengan tayangan itu. Tapi bukan hapal lagunya. Yang mereka kenal, Harry Tanoe itu bos si Abah. Jadi, kalau ada tayangan itu teriakan mereka, “Mbu, bos Abah!”
Teman saya pun mengeluhkan tayangan itu. Sampai-sampai dia jadi nara sumber di kanal berita online. Tapi, ternyata dia tidak suka nongol di berita itu.
Sebabnya, di berita itu, namanya ditulis lengkap. Dan bisa ditebak, batalyon tentara digital mudah menemukannya. Tujuannya satu, merisak dia di dunia maya. Terganggu? Pasti!
Di salah satu berita yang juga dilansir di Merdeka.com, disebutkan orang tua di Jakarta mulai resah dengan tayangan lagu Mars partai yang cukup intens itu. Ada kekhawatiran, mungkin lagu itu akan terpatri hingga ke alam bawah sadar si anak.
Si wartawan pun menghubungi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID). Jawabannya sangat bisa ditebak. “Akan mengecek lebih dulu di peraturan perundang-undangannya.”
Saya akui sulit mengandalkan lembaga pengawas tayangan televisi. Tidak dimungkiri, para pemilik televisi itu para pemodal besar yang merasa televisi itu miliknya. Publik sebagai pemilik frekuensi tak punya pilihan dan nyaris dicekoki dengan program-program seragam.
Kalimat terakhir itu menjadi alasan saya memilih berlangganan televisi berbayar. Harapannya, ada tayangan yang lebih banyak dampak positifnya. Pasalnya di televisi gratisan, para pemilik modal nebeng beken di saluran publik. Slot kenongolan mereka pun tidak sedikit. Televisi itu menjadi alat untuk mengukuhkan eksistensi bisnis para pemodal.
Mengutip dari remotivi, saya sisipkan foto-foto di bawah ini:

image

image

image

Jadi kalau di televisi berbayar pun masih dicekoki tayangan berkepentingan pemilik modal, perlukah kita stop menonton televisi? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s