Ibu yang Payah


Suhu tubuh anak tinggi. Batuk kering tiada henti. Dikompres, tangisnya tidak berhenti. Disuapin obat batuk, nangisnya semakin kencang. Baru berhenti ketika disusui. Selesai menyusui, kembali rewel. Makanan tidak mau dia sentuh. Dia pun mendadak antijajan. Di situ saya merasa menjadi Ibu yang Payah.
Ya, Ibu yang payah, yang seharusnya dapat menjaga anak dari ancaman penyakit. Tapi saya malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan. Bahkan dari Senin ke Senin lagi, saya masih bergelut dengan pekerjaan. Ya, saya melanggar Undang-undang Ketenagakerjaan karena tidak ada libur. Tidak jarang saya meminta anak-anak menjauhi saya sementara karena saya masih mengetik pekerjaan.
Betapa egois saya. Saya bekerja untuk mereka. Tapi, di rumah, saya seringkali mengabaikan mereka karena pekerjaan.
Iya, saya iri pada Ibu yang selalu ada di rumah. Pekerjaannya hanya mengurus keluarga. Saya kepengen, kok, seperti mereka. Tapi, ada bisikan, belum saatnya. He..he.. egoisme lainnya.
Saya sering kesal juga pada orang-orang yang nyinyir kepada ibu-ibu bekerja. Perempuan bekerja, tidak hanya soal ekonomi. Kesempatannya sangat terbuka. Dan ketika, seorang perempuan memilih bekerja dan mengurus anak, itu sudah menjadi pertimbangan mereka. Jadi, apa hak kalian menilai pilihan kami?
Tuh, kan, jadi tambah kesal pada orang-orang yang menegatifkan ibu bekerja. Terus, yang nyinyir itu lelaki. Coba, ya, kalian di posisi kami, yang pagi-pagi, sebelum kerja harus menyiapkan kebutuhan kalian dan anak-anak. Memastikan semuanya terpenuhi. Setelah itu pergi bekerja. Pulang bekerja, kami, para perempuan bekerja tidak beristirahat, loh! Kami berganti rupa menjadi Ibu Rumah Tangga yang sepenuhnya. Bahkan pada jam tidur, kami masih melek. Dibangunkan oleh permintaan anak membuat susu, pekerjaan di kantor yang tersisa, atau cucian yang belum kelar.
Kegalauan saya sebagai Ibu Yang Payah ini memang akibat kelelahan saya yang menilai diri tidak bisa menjadi ibu yang sempurna. Saya berupaya tidak sakit demi menjaga anak-anak, tapi malah gagal mencegah penyakit menghinggapi anak.
Saat anak sakit, saya melepaskan atribut saya sebagai ibu pekerja. Seharian anak hanya mau direngkolan oleh saya. Bahkan saya sulit untuk ke kamar mandi atau sekadar minum air putih.
Lalu, abrakadabra, dua hari saya tidak kerja, suhu tubuhnya turun drastis. Dia sembuh dengan cepat. Ternyata, dia tahu kalau ibunya butuh istirahat. Dan anak saya harus memaksa saya untuk istirahat. Bersamanya. Terima kasih, Kiandra!(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s