Hal yang Menyebalkan Dibonceng Suami


image

Kemana-mana pakai sepeda motor itu memang paling asyik dibonceng suami. Bisa bebas berpegangan ke pinggangnya. Enggak mungkin, kan, nebeng ojek sambil peluk-peluk. Terus, di jalan keliatan sama tetangga. Jadi kiamat nanti di rumah.
Hal lain yang asyik bila dibonceng suami, tuh, enggak perlu bayar pas sampai lokasi. Tapi, di balik kesan asyiknya itu, pasti ada hal yang menyebalkan ketika dibonceng suami.
Kalau saya, sih, mulai dari naik motor sampe turun, ada pantangan yang harus dilakukan. Waktu mau naik, saya harus yakin kalau suami sudah siap dengan hentakan pantai saya. Kalau tidak, bisa ngagaleong itu motor.
Waktu motor melaju kencang pun, komplain saya enggak bakalan didengar. Dan suami saya bisa ngomel kalau saya telat memberi petunjuk untuk berbelok.
Nah, ternyata, pengalaman yang lain pun sama. Saya iseng mensurvey 10 ibu-ibu muda terkait pengalaman menyebalkan ketika dibonceng suami. Sembilan orang di antaranya menjawab ngebut, sebagai jawaban yang paling menyebalkan. Jawaban tertinggi kedua, melabrak polisi tidur atau lubang di jalan.
“Saya rasanya seperti karung beras yang hampir terlempar,” ucap Eva, ibu beranak dua yang sering mencubit pinggang suaminya sebagai hukuman.
Terkadang hal menyebalkan itu juga berupa pengalaman yang memalukan. Tapi jadi bahan tawanya ketika mengingatnya. Dewi, yang bekerja di PDAM berkisah pengalamannya bersama suami saat menerobos banjir.
“Karena mencari jalan yang aman, suami berinisiatif mengikuti motor di depannya. Ternyata motor yang saya ikuti, berhenti di rumahnya. Kami hampir masuk dapur orang,” katanya.
Yang lebih memalukan, kata Dewi, saat ia ditinggal suaminya. Perginya ia dibonceng suami, tapi ketika pulang ia ditinggal. “Terpaksa pakai angkot karena suami sudah jauh,” ucapnya.
Lain lagi dengan Eli, yang suaminya kerap kesasar. Mungkin faktor pelupa yang jadi masalah. Karena jalan yang dilaluinya bukanlah jalan yang asing. “Dia alasannya lupa lagi,” ujar Ibu yang baru melahirkan dua bulan lalu.
Nah, kalau Anne malah nekat mengambil alih setang motor. Dia merasa suaminya terlalu lamban mengendarai sepeda motor. Sementara, ia harus segera tiba di tempat tujuan.
Tapi ada satu pesan penting yang terkadang tidak disadari saat dibonceng. Melinda sering menemukan perempuan yang dibonceng entah sengaja atau tidak memperlihatkan belahan bokongnya. Oleh karena itu, ia selalu mengecek apakah baju bagian atasnya tertarik atau tidak.
Dari hasil survey iseng itu, sebenarnya menggambarkan tabiat para pengendara motor pada umumnya. Sebagian besar mengendarai motor seperti sedang balapan. Mengebut dan berlagak jago menyalip. Ketika ditegur pun, selalu berasa paling benar. Mereka lupa ungkapan “biar lambat asal selamat”.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s