Dilema Ibu Tetangga


Wahai Ibu Tetangga, saya tahu Anda sering kesal kalau anak mengadu tentang perlakuan temannya? Yang mungkin membuat dia iri, bete, dan merasa diperlakukan tidak adil? Ya, pasti kesal. Sebagai orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Orang tua mana yang tidak ingin membelikan anak-anaknya mainan yang bisa menyenangkan mereka. Orang tua mana yang tidak mengalokasikan dana untuk memenuhi kebutuhan makanan dan pakaian si anak. Meski kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala, akan dilakukan orang tua.Demi kebahagiaan anak-anaknya.

Tapi kalau anak Ibu Tetangga menangis iri karena temannya dibelikan sandal baru, tak perlu, lah, Ibu melontarkan sindiran pada ibu si teman. Atau, saat anaknya tidak diajak bermain bersama, tak usah menyalahkan temannya.

Anak menjadi pencemburu itu wajar, Bu tetangga. Mereka tengah berproses menjadi pribadi yang lebih matang. Ibu tetangga, mestinya lebih khawatir kalau anak tidak bereaksi terhadap perlakuan teman temannya.

Dan lagi, ah, Ibu Tetangga, pertengkaran sesama anak itu hanya berlangsung beberapa menit. Tidak seperti Ibu Tetangga yang mendiamkan tetangga sebelahnya berhari-hari, hanya karena anaknya musuhan.

Ibu Tetangga, jangan jadi Ibu yang menggugu apa yang diucapkan anak. Apa yang dilakukan Anda sebagai reaksi aduan anak, akan mudah ditiru si anak. Karena orang tua, adalah role model anak.

Tahukah kelakuan Anda yang kekanak-kanakan itu, Ibu Tetangga, membuat tetangga lainnya kehilangan penghargaan terhadap Anda. Apalagi saat anak Anda mengadu ingin sesuatu yang orang lain punya tapi tidak Anda belikan, tak perlu membentaknya di depan orang tua anak yang membuat anak Anda iri. Tetangga Ibu malah mengeluh pada suaminya untuk mencari kontrakan baru karena lelah dengan polah Anda dalam mengasuh anak.

Ibu Tetangga, usia Anda yang mungkin jauh lebih muda dari saya, tidak harus menjadi alasan kelabilan Anda dalam mengasuh anak. Saya yakin jika Anda lebih bersabar pasti akan mampu menghadapi anak. Tapi jika tidak, untuk meredakan keirian anak Anda, penuhi, dong, kebutuhannya. Oh iya, dan satu lagi, uang jajan yang Anda berikan untuk anak setiap kali belanja itu, tidak akan cukup untuk penuhi kebutuhannya. Harga jajanan segitu, mah, jaman mana atuhhhh! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s