Menyapih demi Cat Rambut


Anak bungsu saya, Sabtu (5/3/2016) usianya pas 2 tahun. Seharusnya, saya sudah melatih dia agar berhenti menyusu pelan-pelan. Rencana tinggal rencana. Ternyata saya yang tidak tega. Si anaknya senang saja melihat kegalauan ibunya.

Padahal saya sudah membayangkan apa yang bakal saya lakukan bila dua anak saya itu sudah stop menyusu. Hal yang paling saya inginkan: mewarnai rambut. Namun, rencana itu terpaksa tertunda.

Saya tak mau menyapih anak dengan datang ke ahli sapih seperti dukun. Saya ingin saya dan anak melalui itu tanpa saling benci. Tanpa menakuti mereka.

Hasil survey saya ke beberapa tetangga, cara mereka menyapih anaknya menakutkan. Ada yang putingnya diolesi bratawali, obat merah, lipstik, hingga ditutup plester. Saya tidak mau seperti itu. Saya ingin proses ini berjalan smooth, dimana saya dan si anak merasa siap untuk saling melepas.

Nah, setelah saya menjelajahi internet, saya menemukan banyak referensi. Seperti di http://id.theasianparent.com/10-cara-menyapih-anak-yang-perlu-dicoba/, yang memberikan tips. Tapi saya merasa enggak pas dengan cara-cara yang harus ditempuh. Ini saya kutipkan isinya.

1. Pilih pengganti yang tepat untuk menggantikan ASI. Bisa botol susu, sippy cup, atau gelas biasa dengan sedotan. Pilihan yang anak suka.
2. Anak ingat menyusu ketika haus dan lapar. Antisipasi sebelum minta nenen dengan menawarkan makanan dan minuman sebelum merengek.
3. Ikuti seleranya. Anak senang menyusu karena aroma dan rasa ASI. Maka, perahlah ASI dan berikan pada anak.
4. Gunakan peralatan warna warni
5. Biar ayah yang melakukannya, agar anak menyadari bahwa bukan hanya ibu sumber makanan.
6. Kurangi frekuensi ‘nenen’ secara bertahap, dan kuatkan tekad untuk mengikuti ketentuan yang Anda buat. Bila si kecil memaksa untuk menyusu di payudara Anda, jangan ijinkan dan kuatkan hati untuk melihatnya rewel. Jelaskan mengapa ia tidak boleh menyusu lagi, lambat laun ia akan mengerti.
7. Ajak dia ke kumpulan balita lain, dan tujukkan bahwa tidak ada balita seusianya yang masih menyusu. Lakukan beberapa kali agar ia mengerti.
8. Berikan pujian bila ia minum susu dari botol atau gelas, dan bila terpaksa, gunakan hadiah kecil sebagai imbalannya. Contoh hadiah sederhana misalnya sebuah stiker setiap kali ia berhasil mengurungkan niatnya menyusu.
9. Tawarkan botol, sippy cup, atau gelas saat ia sedang bermain, sehingga ia meminum susunya tanpa ada keinginan mencari payudara. Bila ia minta menyusu di siang hari, coba alihkan perhatiannya dengan mengajak bermain kesukaannya.
10.Si kecil tentu menikmati saat-saat melekat erat di tubuh Anda saat ia menyusu di payudara. Gantikan kehangatan itu dengan peluk, cium, dan timangan dari ayah dan ibu, agar ia tidak merasa kehilangan aroma tubuh Anda.

Tapi kalau dari tautan http://www.tipsanakbayi.com/2014/03/15-tips-dan-cara-menyapih-anak-bayi.html, saya merasa ini memang tahapan yang harus dilakukan. Yang terpenting saya dan anak saya IKHLAS. Itu tahapan awalnya, sehingga tanpa oles ini dan itu, saya dan anak sama-sama berproses bahwa sapih tidak akan mengurangi kasih sayang. Lalu saya mulai mengurangi frekuensi anak menyusu. Anak saya menyusu kalau mau tidur, terjaga, dan bangun tidur. Terkadang saat akan pergi dan pulang kerja. Tapi saat tidur, dua anak saya itu terbilang jarang menyusu.

Saya merasakan berat untuk menyapih ini. Saya harus menyapih dua anak sekaligus. Ya, karena anak pertama saya kembali menyusu setelah setahunan berhenti menyusu. Ia berhenti menyusu saat saya hamil anak kedua. Usia dia baru setahun. Saya melayani permintaannya mungkin karena ada rasa bersalah mengurangi haknya menyusu.

Saya berharap di proses menyapih yang sekarang akan lebih mudah. Menyapih dengan cinta. Saya harus menanamkan pemahaman menyapih itu bukanlah tanda saya tidak lagi menyayangi mereka. Tapi harus saya akui, psikologis saya yang mungkin kurang rela melepas anak-anak. Karena saya akan berpikir, mereka tak lagi mencari saya karena tak lagi menyusu.

Tapi saya harus kuat. Agar saya dan anak-anak saling menguatkan. Dan, agar saya bisa segera mewarnai rambut, ha…ha… (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s