Pernikahan Dini Ceu Mus


Pagi ini, Ceu Mus membangunkan tidur saya. Suaranya yang nyaring nyaris membuat saya melompat dari kasur. Tapi, saya mampu menahan diri dan saling berpandangan dengan Kinan, yang ternyata turut terjaga.

Ceu Mus berteriak bak orang kesurupan. Saya dengarkan teriakannya. Oalah, ternyata dia sedang memarahi anak keempatnya yang masih dua tahun. Saya terjemahkan saja ke Bahasa Indonesia, karena amarah Ceu Mus itu diucapkan dalam Basa Sunda.

“Kamu ini, kalau mau buang air besar bilang! Bukan malah diam di belakang pintu!”

Tidak lama datang anak keduanya si Jake yang usianya 8 tahun. Dia pun turut kena getahnya.

“Jake, kamu urus adik kamu. Cebokin sampai bersih. Dan kasih tahu, kalau mau buang air, ke WC.”

Hmmm .. kalau pakai akal sehat, itu anak usianya baru dua tahunan. Mending kalau sudah bentes ngomong. Kalau belanja ke warung pun, saya berusaha menerjemahkan bahasanya dengan berulang kali bertanya.

Ini bukan kali pertama Ceu Mus marah marah begitu dahsyat hingga membangunkan tetangga. Tebakan saya faktor psikologis Ceu Mus yang sebenarnya belum siap berkeluarga.

Ceu Mus, mungkin bukan panggilan yang tepat untuk perempuan yang usianya kurang dari 30 tahun itu. Selulus SMP, ia terpaksa dinikahkan dengan Elman, teman sekolahnya. Tidak lama setelah menikah lahirlah, Michael. Si Michael ini terpaksa diasuh oleh ibunya Ceu Mus saat melahirkan anak ketiga yang ternyata kembar (laki-laki dan perempuan).

Si Jake sekarang ini jadi anak sulung bayangan. Atau lebih tepatnya jadi asisten Ceu Mus. Karena si Jake ini memang banyak menambal tugas ibunya, terutama setelah Ceu Mus melahirkan anaknya yang kelima. Sangat produktif bukan?

Pagi hari, sebelum sekolah si Jake mengambil air dengan memakai jerigen bekas ke tempat penampungan air. Kemudian disambung memandikan dua adik kembarnya. Urusan adik kembar belum selesai. Jake lalu belanja bubur dan menyuapi adik-adiknya itu.

Bahkan di saat lonceng sekolah sudah berbunyi, Jake masih repot bolak-balik belanja ke warung untuk kebutuhan masak Ceu Mus. Jarang rasanya melihat Ceu Mus keluar rumah. Yang sering terdengar hanya teriakannya.

Jake tak pernah mengeluh, sepertinya. Tangisan itu tertahan di balik matanya.

Kalau jadwal sekolah siang, pekerjaan Jake bertambah. Ia mencuci pakaian. Pakaian seluruh anggota keluarganya. Hampir semua tetangga tahu, karena tempat cuci baju keluarga Jake itu di luar rumah.

Mungkin ini akibat pernikahan dini dan anti pakai alat kontrasepsi. Lahirnya anak tidak terkendali. Anak yang seharusnya masih dimanja malah berganti peran dengan ibunya. Ketika si anak memerankan ibunya, si Ibu terus asyik dengan ponselnya.

Tapi ketika si anak melakukan kesalahan, caci maki akan mengalir deras. Bagi Ceu Mus, banyak anak banyak asisten. Itulah arti memiliki anak buat dia. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s