Pernikahan Sederhana Ai dan Agus


Malam ini akan jadi malam yang bersejarah untuk Ai dan Agus. Mereka berikrar dalam ikatan suci untuk saling menjaga hingga maut memisahkan. Dan, semoga memang hanya maut yang akan membuat mereka terpisah.

Bagi Ai dan Agus, ini bukan pernikahan pertamanya. Agus sudah menikah sekali. Dàri perkawinan pertamanya, ia beroleh seorang anak.

Sedangkan bagi Ai, dengan Agus adalah pernikahan ketiganya. Dari dua pernikahan sebelumnya, Ai memiliki tiga anak.

Yang unik dari pernikahan mereka, tidak ada kesan sakral dan istimewa. Pernikahannya begitu sederhana. Tapi, bagi tetangga, sebuah kewajiban melihat mereka mengucapkan ijab kabul. Meski tak berdandan mewah, tidak sedikit tetangga yang sengaja datang dan mengintip dari kaca. Tidak sedikit juga yang berucap, ”akhirnya.”

Kata akhirnya memang layak disematkan pada mereka berdua. Bukan satu atau dua tahun, mereka sangat dekat. Keduanya memiliki usaha bersama. Ditambah lagi, kamar kontrakan mereka bersebelahan. Tidak heran ada yang beranggapan mereka itu sudah kumpul kebo. Tudingan yang tak perlu dibuktikan karena hanya santapan gosip para tetangga.

Sudah lama Ai ingin meresmikan hubungan dalam sebuah pernikahan. Tapi, Agus selalu maju-mundur. Agus seolah-olah masih kurang yakin dengan perasaannya pada Ai. Dia selalu beralasan masih menabung untuk menikah dengan Ai.

Padahal, hanya sejak bersama Ai, usaha Agus tampak kian maju. Usaha mereka berdua itu berjualan seblak dan bakso. Terkadang Agus berjualan gorengan keliling. Namun, belakangan mereka berdua kompak hanya berjualan seblak dan bakso. Seharusnya, melihat kemajuan usahanya, Agus menyadari bahwa Ai adalah wanita keberuntungannya.

Agus akan sangat menyesal bila melepas Ai. Ia belum tentu akan mendapat pengganti yang lebih baik dari Ai. Belum lagi, omongan tetangga akan semakin pedas. Tidak menutup kemungkinan bila Agus memutuskan hubungannya dengan Ai, maka itu pula saat ia harus hengkang dari kampung kami.

Ketika akan menikah pula, terungkap fakta bahwa Ai belum resmi bercerai dari suami sebelumnya. Ternyata, suami Ai hanya menceraikannya secara lisan. Tidak ada proses perceraian resmi di Pengadilan Agama. Agar pernikahannya mulus dengan Agus, Ai harus ‘membeli’ akta cerai senilai Rp 1 juta.

Saya percaya bahwa jodoh kita adalah jimat keberuntungan. Dan saat kita menikah dengan jodoh kita, maka pintu rejeki itu akan semakin terbuka lebar. Berkah dari Tuhan tak pernah berhenti. Dan, kita hanya mampu bersyukur menjawab pemberian Tuhan.

Saya pun sebagai tetangga, hanya bisa berharap, bahwa pernikahan itu adalah pernikahan terakhir untuk keduanya. Dan Mang Pandi, ayah Ai, tak perlu lagi menjadi wali Ai untuk kali keempat. Tiga kali, sudah cukup. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s