Priceless


Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Apalagi memimpin banyak orang. Mengatur dan menyamakan pemikiran ribuan kepala itu memerlukan keterampilan. Tapi, hal itu selalu tampak mudah bagi orang yang sepertinya diberikan keistimewaan untuk memiliki banyak pengikut.

Fumio Kindaichi, tokoh rekaan dalam sebuah dorama Jepang “Priceless” memiliki jiwa kepemimpinan itu. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan 1.507 pegawai di perusahaan kakak tirinya saja rela resign demi menjadi follower Kindaichi. Mustahil, kan? Ya iya, karena itu hanya kisah rekaan.

Kisah leadership yang minim romance itu setidaknya pasti terinspirasi oleh kisah nyata seseorang. Saya lanjut lagi, ya, ceritanya. Kindaichi semula bekerja di perusahaan ayahnya yang kemudian dipimpin kakak tirinya setelah sang ayah meninggal. Padahal pemilik Miracle Thermos itu justru akan memberikan perusahaan pada Kindaichi. Sebelum meninggal, pada anak sulungnya, ia berbisik. Bahwa, hanya Kindaichi yang pantas menjadi direktur penerus.

Seakan menantang wasiat ayahnya, yang hanya diketahui anak sulung dan asistennya, roda perusahaan ia jalankan. Kerja pertamanya, mendepak Kindaichi dengan tudingan mencuri rahasia perusahaan. Tidak cukup, apartemen Kindaichi pun dibakar.

Kindaichi jatuh miskin. Ia tinggal di kontrakan murah yang tarifnya 500 yen sehari. Demi 500 yen, Kindaichi kerja apa saja mulai dari memulung botol dan gelas plastik hingga pelayan restoran udon dan ramen.

Di perusahaan yang memecatnya, ada staf keuangan, Nikaido yang mengusut dugaan pencurian oleh Kindaichi. Ia malah dipecat dan kemudian tinggal bersama Kindaichi. Setelah Nikaido, manajer marketing Moai menyusul. Mereka bertiga tinggal di satu kamar yang hanya muat satu kasur besar.

Untuk bertahan hidup, mereka memulai usaha jualan hot dog. Bermodalkan roda hadiah mantan bos udon Kindaichi dan hot dog bikinan bos ramen, bertiga berjualan di depan Miracle Thermos. Saat itu, namanya berubah Miracle Electronics dan tak lagi berjualan termos. Semua prototipe termos dibuang. Semua perusahaan mitra diputuskan kontraknya.

Kindaichi lalu berniat menjual termos. Dengan bantuan modal dari rekan ayahnya, ia berhasil memproduksi 200 termos yang mampu menahan panas air hingga dua hari. Laku? Tidak. Harganya terlalu mahal. 60.000 yen.

200 termos itu terpaksa digudangkan. Dimana lagi, selain di kontrakan mereka yang sesak itu. Tapi satu termos hilang. Ternyata dibeli seorang jurnalis pereview produk. Artikelnya membuat Kindaichi kewalahan dengan pesanan.

Ia kemudian merangkul mantan mitra Miracle Electronics yang dibuang. Lebih dari 10 perusahaan memproduksi Happiness Thermos. Tidak mampu memproduksi sesuai target, satu perusahaan mitra berniat mundur. Bukannya merelakan, Kindaichi malah berniat membubarkan perusahaan yang baru dirintisnya itu.

“Saya ingin membuat termos bersama keluarga. Bukan hanya profit,” begitu alasannya.

Dengan bantuan mitra lain, mitra yang berniat hengkang itu kembali. Di saat pesanan membludak, muncul masalah baru. Kakak tirinya mengajukan gugatan atas hak paten termos yang diproduksi. Tidak usah melihat angka ganti rugi, Kindaichi akan segera bangkrut. Karena saat gugatan diajukan, produksi harus berhenti.

Keputusan Kindaichi mengejutkan lagi, ia meminta kakaknya menarik gugatan. Ia berikan Happiness Thermos. Asalkan, kakaknya mau meneruskan dan tetap memakai mitra-mitranya. Kakaknya sepakat lalu mengingkarinya. Itu yang akhirnya menghilangkan kepercayaan ribuan karyawannya.

Kali ini giliran kakak Kindaichi menyerahkan perusahaan tanpa karyawan pada Kindaichi. Meski semua karyawan memihak Kindaichi, tetap sulit mengembalikan kepercayaan mitra dan publik. Kindaichi tetap pada obsesinya membuat termos. Kali ini, yang tahan tiga hari panasnya. Suksesnya? Mungkin saja. Karena saya belum menyelesaikan tontonan itu.

Mungkin sedikit pemimpin yang memiliki pengikut loyal. Dan banyak pemimpin yang hanya ingin tampak ‘wah’ sebagai pemimpin. Demi impian baru, rela melepaskan mitra dan anak buah yang selama ini sudah seperti keluarga. Ada juga pemimpin yang tidak mau tahu dengan ketidakmampuan mitranya. Mitra dipaksakan bekerja tanpa batas padahal semua ada batasnya.

“Kita bukan robot,” kata salah satu karyawan yang memulai aksi resign.

Karena ada yang priceless dari sebuah pekerjaan: ikatan kekeluargaan. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s