Emak Batal Kembali


Bagi orang jaman dahulu, memasang ‘isian’ di badan sudah biasa. Ada yang untuk kecantikan, asihan, atau kekebalan. Tapi, jika lupa melepasnya, katanya, akan menyusahkan saat meregang nyawa.

Ini kisah Mak Emeh, yang sudah empat kali batal meninggal. Beberapa tahun lalu, keluarga Mak Emeh, menganggap sebuah keajaiban, ketika Mak Emeh sudah meregang nyawa kemudian sehat kembali. Sekali, dua kali, memang keajaiban. Tapi, ketiga dan keempat, menunjukkan ada kejanggalan.

Benang merah dari keempat ‘kebangkitan’ Mak Emeh itu adalah air. Kabarnya orang yang meregang nyawa itu, akan tampak seperti orang kehausan. Iba pasti melingkupi orang-orang yang menemaninya.

“Coba berikan air minum. Kasihan,” kata Ustadz yang mendoakan Mak Emeh.

Ucapan ustadz itu adalah perintah yang tak bisa dibantah. Maka disendokkanlah air dan disiapkan ke mulut Mak Emeh. Ternyata Mak Emeh tidak hanya melepas dahaga, si air seakan mengusir malaikat maut yang tengah bersiap mencabut nyawa Mak Emeh. Mak Emeh bangkit dan bertingkah seperti orang sehat.

Kejadian serupa berulang. Mak Emeh sekarat, diberi air, lalu sehat. Kejadian ketiga dan keempat mengundang rasa penasaran salah satu anaknya. Ia pun menelusuri rahasia Mak Emeh. Ia mencari tahu apakah ibunya memiliki ‘isian’ di tubuhnya atau tidak.

Ternyata, Mak Emeh ini mengisi tubuhnya dengan jimat Banyuwening. Tidak heran, ketika tubuhnya terkena air, ia kembali sakti. Bahkan malaikat maut enggan mendekatinya.

Dari ‘orang pintar’ yang didatangi anak Mak Emeh terungkap kalau dulu Mak Emeh adalah seorang penari. Ia memerlukan jimat agar ia terkenal dan mengalahkan penari-penari lainnya. Ajian Banyuwening itu mujarab. Mak Emeh menjadi penari yang paling cantik di Cirebon.

Anak Mak Emeh kemudian menelisik keberadaan guru ibunya itu. Konon, ajian itu mesti dicabut oleh yang memasangnya. Sayangnya, guru Mak Emeh sudah lama meninggal. Si anak jadi pesimis. Ia tidak ingin melihat ibunya tersiksa seperti itu. Susah mati.

Orang pintar yang ditemuinya memberikan jimat penawar berupa bungkusan kain yang harus disimpan di bawah bantal Mak Emeh. Di satu malam, Mak Emeh akan kembali meregang nyawa. Di saat itulah, keluarga harus menahan diri untuk memberikan air. Jika tidak, akan ada kisah kelima Mak Emeh batal meninggal.

Dengan sedih, keluarga mengiyakan perintah si orang pintar. Tanpa air, Mak Emeh kembali ke penciptanya. Bagi keluarganya, itu jalan terbaik bagi Mak Emeh. Sesuatu yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah. Melepaskan segala yang dimilikinya di dunia. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s