Nomor Tak Dikenal? Abaikan!


“Kring…Kring…,” telefon genggam saya menyala. Bunyinya memang “Kring”, karena nada android itu terlalu mainstream. Bikin kita kegeeran waktu telfon orang lain bunyi. Tengsin!

Berkali-kali bunyi, berkali-kali pula saya abaikan. Nomornya tidak dikenal. Khawatir telfon hipnotis.

Tapi kemudian saya berpikir positif. Kalau ada yang kasih rejeki gimana? Saya angkat lah telfonnya.

“Mba Dewi, saya Kunto Aji (nama samaran). Saya mau minta Mba liput peresmian sekolah kami di ruko nganu. Bisa ya?”

Peresmian sekolah? Agak malas juga. Tapi beruntung saya mampu ngeles. Kebetulan ada agenda liputan bentrok. Saya bilang kalau tidak keberatan saya dikirimi rilis saja. Fix! Dia mau.

***

Esok sore.

Ketika saya dibonceng si Abah, ada telfon dari nomor yang sama. Saya angkat. Mungkin dia mau mengabari soal email yang saya minta. Ternyata bukan.

“Mba, saya mau minta datang meliput malam ini. Ada pertemuan orang tua atau open house gitu. Di tower ngitu. Bisa ya?”

“Waduh, malam ya, Pa? Saya nggak bisa. Pengasuh anak saya sudah pulang. Malam itu, saya sudah nggak bisa diganggu kerjaan.”

“Mba kan wartawan, harus siap kapan saja. Bawa saja anaknya Mba.” (Kupret, dia pikir anak saya itu semacam boneka yang bisa duduk manis. Ditinggal lima menit aja, rumah bisa kayak kapal pecah)

Ini orang sudah mulai rese. Dia nggak sadar sudah masuk ke kategori “orang yang berpotensi” masuk daftar hitam saya. Dia pikir hidup saya buat kerja. Kerja memang ibadah tapi nggak semua ibadah itu ada di kerja.

Si Kunto terus mendesak. Dia minta wartawan lain. Saya jawab, “nggak bisa begitu Pa. Mereka juga tidak bisa diminta mendadak.” (#sahaaing bisa nyuruh-nyuruh seenak udelnya gitu)

Singkat cerita, saya sudah menolak dengan keras. Saya ogah dipaksa kayak begitu. Dan, nomor itu sudah saya tandai.

***

Hari berikutnya.

Kunto menelfon lagi. Bukannya sudah saya tandai untuk diblokir? Kenapa saya angkat? Ya, pasti saya angkat karena nomor depannya itu sama dengan nomor kantor saya. Mungkin karena mereka searea.

Dia tanya kenapa beritanya belum naik. Sumpah, deh, email kiriman dia belum saya buka. Saya akui kalau belum cek.

Waktu saya cek isinya, ada dua lampiran. Lampiran yang nggak banget saya bikin beritanya. Ternyata pemahaman dia soal rilis itu nol besar. Dia kirim power point isi visi misi sekolahnya. Lampiran kedua, isi acara open house. Rilis? Bukan, masih PDF.

Kalau pun saya memaksakan bikin, siapa yang jadi nara sumber? Nihil.

Lagi pula itu isinya full promosi sekolah. Enak bener, promosi gratisan.

Sekali, dua kali, hingga tiga kali dia tanya soal pemuatan berita. Kalau ini melalui email. Saya jawab juga pakai email.

“Maaf Bapak, email yang Bapak kirim lebih cocok untuk advertorial. Sebaiknya Bapak hubungi bagian iklan atau sirkulasi kantor kami untuk bekerja sama. Saya jamin, adanya kerja sama itu akan menjamin tulisan tentang sekolah Bapak dimuat.” (Tentunya membayar tarif yang ditentukan kantor. Bisa pasang iklan atau beli koran).

Setelah email itu saya kirim, sim salabim, sampai sekarang nomor itu tak berkirim kabar. Pun emailnya. Nuhun gusti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s