Rumah Impian Keluarga Wibagja


Setiap pasangan yang berkeluarga pasti memimpikan memiliki rumah sendiri. Rumah idaman. Sering ngiler melihat pasangan artis yang baru saja menikah sudah langsung mengisi rumah mereka. Mempertontonkan kesukariaan mereka mengisi rumah dengan interior yang ciamik

Saya dan suami juga begitu. Tapi kondisi kami berdua tidak seperti artis-artis itu. Ya iyalah, siapa sih kami? Hanya kuli tinta yang masih beradu untuk kebutuhan perut. 

Tahun kelima pernikahan kami, kami kuatkan niat dan dompet untuk membangun istana kami. Kami ingin dua anak kami memiliki rumah kebanggaan mereka. Rumah yang selalu dikangeni. 

Dari awal 2016, kami mulai berencana rumah seperti apa yang akan dibangun. Mulai dari material rumah, konsepnya, hingga pembiayaan. Obrolan pertama berkaitan dengan konsep. Kami menginginkan rumah yang aman dan nyaman. Rasanya Lembang bukan tempat yang cocok membangun rumah gedong sigrong. Digoyang lini sedikit saja, tembok retak-retak. 

“Oke, kita buat rumah bahan kayu atau bambu,” kata si Abah. 

Maka otak berputar menggambar denah. Lebih sulit karena kami tidak memiliki latar belakang seni gambar. Jadinya gambar lebih pada sakahayang. Konsep denah itu akan diterjemahkan oleh penyedia kayu. Setelah mempertimbangkan tanah yang dimiliki, disepakati kami akan membangun rumah dengan dua kamar di dalamnya. 


Kamar utama adalah kamar saya dan si Abah. Kamar kedua, kamar dua anak kami. Kami ingin ruang yang luas di teras yang diperuntukkan bagi tamu. Ruangan di dalam bukan haram dikunjungi tapi lebih diprioritaskan bagi keluarga dan sahabat. 

Ruang luas lainnya adalah dapur. Ini area saya untuk memasak dan mencuci. Dapur menempel dengan kamar mandi. Antara ruang keluarga dan dapur ada selasar. Di sayap kiri selasar kemungkinan untuk ruang ibadah. Sayap kanan, bisa sewing area dan reading area. 

Untuk area luar, akan dimanfaatkan untuk garasi dan taman. Garasi letaknya di samping rumah. Sedangkan taman di depan rumah. Impian keluarga kami, sih, taman itu bisa dipakai berkemah. Diperkirakan muat untuk 4 kemah kecil. 

Pembangunan dimulai 1 April 2016. Seperti pembangunan lainnya, tanah harus diratakan. Meski konsep rumah kami rumah panggung, tapi bagian kolong kami tutup. Khawatir ada binatang nginep. Ini penampakan minggu awal pembangunan. 


Tidak mudah mencari kayu yang cocok. Kami pilih jati karena kuat dan unik. Si Abah sampai dua kali berburu jati dari Cirebon hingga Blora. Kayu tidak bisa langsung pasang karena harus dipotong dan dibentuk sesuai kebutuhan. 

Agar rumah tampak terang dan segar perlu banyak jendela. Sedikitnya ada empat jendela yang disediakan. Sedangkan untuk pintu, kami pilih pintu geser. Lebih menghemat ruang. 

Genteng rumah pun dicari yang klasik. Dipilihlah jenis genteng bangkong. Jenis ini susah dicari karena sudah tidak produksi lagi. Alternatifnya cari yang seken


Sudah dua bulan berjalan, masih banyak pekerjaan yang tersisa. Dapur, kamar mandi, selasar, garasi, dan taman. Mudah-mudahan setelah Lebaran kami sudah bisa moving in. ***

Advertisements

7 thoughts on “Rumah Impian Keluarga Wibagja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s