Kenali Batas Diri


Akhir semester bagi mahasiswa artinya selain belajar untuk ujian akhir semester (UAS) juga tumpukan tugas kuliah yang mesti diselesaikan. Terlambat dikumpulkan, sama saja bunuh diri dan menandatangani KRS untuk mata kuliah yang sama di semester mendatang. 

Akhir semester bagi saya, sama artinya dengan tingginya permintaan menjadi responden. Tidak hanya dari mahasiswa jurusan jurnalistik, sesuai bidang pekerjaan saya, tapi juga jurusan-jurusan lainnya. 

Untuk urusan jadi responden-responden ini, nih, saya jadi rada judes. Bukan apa-apa, terkadang rasanya seperti diteror. Baik yang sifatnya tatap muka atau via surat elektronik. 

Yang lebih ngagetin kalau sistemnya ‘asal tembak’. Lebih mirip kayak ulangan dadakan dimana saya sedang mengetik berita tiba-tiba disodori lembar kuesioner yang harus selesai diisi dalam 15 menit. Model seperti ini, yang saya ingat, sudah dua kali terjadi. 

Pertama, untuk mahasiswa jurusan Arsitektur. Pertanyaannya soal bangunan herritage. Saya ditanya pernah datang ke situ, bagus enggak bangunannya, bagus enggak perawatannya, dan lain-lain sebagainya. Nah, saya ini awam soal bangunan Arsitektur. Jawaban saya, ya, aslinya enggak pake mikir. 

Yang kedua, mahasiswa psikologi. Karena petunjuknya jawablah sesuai yang Anda rasakan, maka pertanyaan itu saya jawab pake hati dong. Yang paling emosional ketika pertanyaan yang muncul, terkait tantangan pekerjaan ini dan bagaimana solusinya. Asli, saya tulis kalimat emosional. Ada kalimat, “Silakan bayangkan”. 

Seharusnya untuk psikologi, di halaman pembuka kuesioner itu ada semacam data profil responden. Data itu sebagai profil awal yang diwawancara bisa berkaitan dengan keluarga, masa kerja, atau pun kondisi ekonomi. 

Terakhir yang saya alami adalah mahasiswa tingkat akhir yang tiba-tiba kontak saya di what’s app. Dia bilang tahu nomor saya dari temannya. Yang agak mengesalkan ketika dia tanya pekerjaan saya di kantor. 

Bukankah seharusnya sebelum dia kontak saya, dia tahu pekerjaan saya. 

“Kenapa tidak sekalian kamu tanya sama temen kamu apa pekerjaan saya?” 

Dia pun menjawab kalau saya ini wartawan tapi dia tidak tahu saya wartawan tulis atau foto. Satu lagi kelemahan si mahasiswa yang tidak mencari tahu profil saya lebih dulu. At least make me impress!

Saya yang kadung kesal meninggalkan percakapan karena kebetulan posisi saya sedang bekerja di luar. 

Malamnya dia kontak saya lagi dengan pertanyaan apakah saat itu saya sudah santai atau tidak. Bagi saya, di kantor saya adalah karyawan. Ketika saya sudah di rumah, saya jadi istri dan ibu dari dua anak saya. Jadi tidak ada kata ‘santai’. Sibuk? Memang!

Besoknya dia kontak lagi dengan pertanyaan serupa. Saya jelaskan aktivitas saya seperti apa. Baru dia menjelaskan tujuan dia menghubungi saya. Untuk skripsi dia! 

Oke, saya memang judes! Waktu saya mahal. Mahal sekali. Makanya ketika rileks saya akan lebih banyak beraktivitas bersama keluarga saya karena mereka itu tidak ternilai. Jadi ketika saya menolak permintaan dia, bukan karena sombong. Tapi saya sudah dapat memprediksikan kesempatan saya bersama keluarga semakin sempit.

Saya juga pernah merasakan di posisi dia. Tapi bukan karena enggan menolong. Menolong orang itu harus dengan ikhlas dan luang. Saya merasa tidak mampu memenuhi keduanya. Daripada saya iyakan, tapi di tengah-tengah saya menyusahkan, tugas akhir dia akan kacau. 

Jadi lebih baik saya menolak. Agar dia mampu mencari nara sumber yang lebih layak buat mengisi tugas akhirnya. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s