My Stupid Boss (part 2) yang ala-ala gitu!


Buat yang pernah nonton, My Stupid Boss pasti ingat kata-kata dia yang jadi ciri khasnya, “tempe bener, sih, kamu!” Atau dengan perilakunya yang amnesia dini akut syekali di mana ia selalu lupa hal yang baru saja dia bicarakan. Mungkin, sifat si Bossman yang takut sama istri dan milih memanfaatkan karyawannya agar menghindar dari paksaan mencicip masakan istri. 

Kalau ingat si Bossman, saya berasa mirip si PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru. Sudah dua tahun saya ikut riweuh. Padahal anak-anak saya belum ikutan PPDB. Masuk PA’UD (itu cara pengucapan pengasuh saya, loh! Seperti pakai ain dalam bacaan Quran) juga belum. Tahun ini ada sedikit partisipasi, sih, karena ada keponakan yang masuk SMA. Setidaknya itu agak bikin saya baper memantau PPDB. 
Tahun ini juga, aturan PPDB dibilangnya, lebih mendingan dari tahun lalu. Banyak aturan yang merevisi kegagalan tahun lalu. Misalnya, menghapus pembina yang memutuskan dan menetapkan hasil pleno. Aturan ini yang bikin pembina seenak udel mengubah kapasitas sekolah karena ingin menampung seluruh siswa miskin di sekolah negeri. 

Anak guru mulai diatur jumlah yang lolos seleksi yakni 3%. Meskipun upaya keadilan ini, direspon sebagai ketidakadilan karena kata guru, dengan berlindung di bawah undang-undang guru, itu bentuk kemaslahatan bagi guru karena mereka ini pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi harus dimudahkan masuk SEKOLAH NEGERI! (Ah, saya enggan menafsirkan isi pasal di undang-undang guru. Karena penafsiran selama ini pun hanya parsial)

Jalur prestasi terutama olah raga, mungkin ada perbaikan. Mungkin, loh, karena melibatkan KONI dalam verifikasi data prestasi siswa. Kemudian, ketahuan ada pemalsuan. Kemudian, dilaporkan. Ada juga upaya jual beli sertifikat. Kemudian dilaporkan. Kemudian diberitakan. Kemudian yang beritakan didatangi … (Lalu perkataan selanjutnya hilang dalam senyap). 

Terus, ada juga siswa inklusi yang kemudian diakomodasi. Entah salah si sosialisasi atau gimana, dari alokasi ribuan kursi dengan rincian tiga siswa di tiap sekolah, yang daftar hanya, 31 orang. Yup, 31 orang. 

Iya, mirip si Bossman. Bikin aturan serba perpect tapi tidak lihat situasi. Tapi, karyawannya dianggap tempe karena tidak bisa ikuti aturan dia. Kemudian dia ikutan tempe karena melanggar aturannya dia.

Itu sama saja, dengan bikin aturan yang katanya sempurna atau agak mendingan dibanding tahun lalu. Tapi pelaksanaannya, ya, banyak improvisasi. Mirip, lah, pekerjaan tukang vermak di jalan yang benerin baju sesuai keinginan yang punya baju. Nah, di PPDB ini, yang merasa punya baju itu banyak. Bisa dibayangkan, dong, itu celana yang dipermak. Mungkin sebelah cutbray, sebelah pensil. Mungkin sakunya ada ratusan! Jadi gak heran, bila akhirnya si tukang permak malas benerin celana itu. Karena tafsir tiap orang tentang kecantikan dan kegantengan itu relatif, Jenderal!

Ditambah lagi, kalau diibaratkan sepak bola, si PPDB ini banyak banget wasitnya. Ada pengawas internal, Ombudsman, organisasi kependidikan, independen, orang tua siswa, dan mungkin ada yang ngaku-ngaku juga jadi pengawas. Kebayang, kan, selain di dalam lapangan ada juga wasit di luar lapangan yang jauh lebih heboh. Terus, gimana, nih, para pemain. Yah, jadi hare-hare. Lihat saja FORUM TANYA di laman resminya. Sebuah forum penuh pertanyaan tanpa ada jawaban. Semua yang asyik di dunianya masing-masing dan merasa benar atas tindakannya. 

Saya yang ogah jadi pemain atau pengawas ternyata kagugusur oge. Mesti cari informasi yang mencerahkan pembaca. Informasi yang kadang hanya ceuk si ieu, ceuk si itu, karena informasi shahih itu sering kali susah diakses. 

Satu yang saya khawatirkan, saya tidak akan lagi kritis dengan isu-isu PPDB. Saya mungkin jadi orang apatis. Orang yang akan jawab seperti suaminya Kerani, karyawan si Bossman kalau PPDB, “emang kayak gitu orangnya!”

Atau, saya akan bilang kalau yang namanya jual beli kursi, pemalsuan sertifikat dan dokumen, ubah-ubah sistem, mark up nilai itu sudah jadi hal lumrah. Toh, tidak pernah ada tindakan nyata. Saya asli sieun jadi seperti itu. 

Atau, saya akan memilih berita-berita yang datar saja. Tidak perlu bikin berita sensasional. Tak perlu nulis berita yang isinya ditafsirkan memberikan persepsi pencemaran nama baik agar saya tidak perlu didatangi orang yang berdalih mau klarifikasi tapi bawa pengacara. 

Saya khawatir kalau, saya yang di luar sistem ini, yang mungkin tidak memiliki kepentingan atas PPDB kemudian menjadi makhluk yang hare-hare. Mau PPDB gitu, atau gini, saya tidak ada urusan. 

Yang paling saya khawatirkan, saya akan jadi generasi tempe, yang mudah lupa dan susah ingat! Ah, sekali lagi saya jadi baper dengan PPDB ini. Mungkin karena ini akan mengganggu jadwal libur Lebaran juga. Tapi, saya yakin, saya tetap ingat bahwa PPDB harus ideal bukan hanya soal siapa yang diakomodasi tapi keberpihakan Pemerintah memberikan layanan pendidikan terbaik sehingga tidak perlu ada rebutan masuk sekolah negeri. Toh, kualitas semua sekolah sama.

Tulisan ini pun mungkin jadi cara saya menghindari lupa akan PPDB yang tempe ini. Seakan jadi kewajiban, saya harus menulisnya secara personal. Yah, ini tulisan personal saya, jadi tidak perlu para pengacara mendatangi saya, kan! Ha..ha..! ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s