Efek Mariyuana


sumber foto: prweb.com


Tuh kan, enggak gampang menjawab tantangan yang dibikin sendiri pun. Dengan berbagai pembenaran, saya belum posting satu tulisan sejak tantangan itu dibuat. Mari kita bayar sekarang, ha…ha...! Ini dia #tantanganjulingeblog #tantangantanggal8. 

Tema tanggal 8 itu berkaitan dengan bahasan obat-obatan dan alkohol. Kalau obat-obatan untuk penyakit fisik, memang rada anti. Lagipula penyakit saya yang paling sering itu diare dan batuk pilek. Nah, kalau diare, jarang diobatin. Anggap aja diet. Lumayan kan banyak lemak yang dibuang. 

Batuk baru saya obatin. Itu pun obat batuk anak. Entah kenapa, tidak pernah mempan dengan obat batuk dewasa. Yah, terima saja nasib badan dewasa tapi penyakit bocah. 

Kalau soal alkohol, belum pernah nyicipin baik disengaja atau tidak disengaja. Nyoba minuman kaleng saja, beraninya yang 0 persen alkohol. 

Tapi kalau tentang sesuatu yang memabukkan, perlu diakui, saya pernah rasakan. Itu pun pasif. 

Begini ceritanya, kenakalan orang dewasa mungkin ada yang tak bisa jauh dari mariyuana atau ganja. Biasanya dibakar jadi rokok. Gara-gara tak sengaja menghirup asapnya, saya jadi tahu efeknya pada badan saya seperti apa. 

Sepertinya efek yang diterima itu berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang kuat makan, kuat kerja, dan kuat melek. Efek ke badan saya malah kuat tidur. 

Efek itu terasa banget waktu ganja bubuk dicampur makanan. Waktu itu, Bang Cok, tetangga kosan di Bekasi, tumben banget kirim makanan. Dia kirim mie rebus sama ayam betutu dari Bali. Senang tiada terkira. Rasanya maknyooss!

“Enak, ya, mie buatan saya?”

Saya jawab, “enak.” Apalagi itu gratis dan sudah dibuatin

“Beda, kan, sama mie biasanya?”

Saya rasa-rasa lagi. Betul memang beda. Bumbunya terasa lebih kental. Tapi, mungkin itu karena dikasih topping ayam betutu. Begitu pikir saya. 

“Saya campur ganja bubuk, loh! Sesendok saja,” kata Bang Cok. 

Sontak saya berasa disambar petir. Ha..ha.. Drama banget. Enggak ding! Saya cuma mikir, seenak ini toh ganja. Tapi kalau dicampur makanan jadi begini enak, ngapain sih dibakar. Ah, tapi itu urusan mereka. 

Sambil ngobrol setelah beres makan, kepala saya agak pening. Dan saya banyak menguap. Efek ganja mulai merasuk. Cepat saya usir Bang Cok ke kamarnya. Lalu saya mengunci kamar. 

Saya tidak tahu jam berapa saya tertidur. Saya bangun seperti biasa. Setelah mandi, kepala saya kembali pening. Lalu, pandangan saya mulai gelap. 

Saya membuka mata di jam yang sama. Keesokan harinya. Ternyata saya kembali tertidur. Hanya dibalut handuk. Beruntung hari pertama saya tertidur itu Sabtu. Saya tidak kerja setiap hari itu. Akibat ganja, saya tidur lelap selama dua hari. 

Kalau Anda, bagaimana? Pernah jadi peganja pasif juga?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s