Cicak di Tanjakan Curam


#ngeblog di Minggu pagi itu asyik juga. Diselingi naheur cai, ninyuh kopi, dan ngombehin anak. Tapi pas lihat tema #tanggal9, ha…ha…ngeper juga. Bahasannya soal ketakutan. 

Bicara ketakutan, kalau dengan binatang saya takut sama cicak. Tepatnya geuleuh. Lagi tiduran, di langit-langit ada cicak bergerak lincah, saya pasti keringat dingin. Terbayang kalau itu cicak kehilangan lem di tangan dan kakinya, lalu tergelincir, tidak bisa muntang. Dan saat dia jatuh, naplok ke muka saya. Bisa-bisa saya mendadak koma. 

Awal saya bermusuhan dengan cicak itu sederhana tapi tidak menyenangkan. Waktu saya mengambil kangkung di kamar mandi tiba-tiba di betis saya ada sesuatu yang menempel. Sesuatu itu dingin dan licin. Geunyal! Itu cicak!

Tapi kalau ketakutan lain yang bikin saya lemas lutut, ya, yang berkaitan dengan ketinggian. Tak perlu ajak saya ke tempat dengan ketinggian puluhan meter. Naik jembatan penyeberangan saja, saya sudah gemetaran. 

sumber: Pinterest

Makanya, kalau ke Jakarta, mau naik busway atau pindah ke ruas jalan di seberang, malas sekali rasanya. Harus melintasi jembatan penyeberangan yang panjang sekali. Rasanya, tidak sampai-sampai ke tujuan. 

Terakhir berurusan ketinggian itu, ketika bertemu sahabat yang memiliki acara akbar di Karawang. Sebagai tamu khusus, saya dan keluarga diminta berada di sebuah panggung kecil di seberang panggung besar. Tingginya bisa 4 meter. 

Waktu naik, tangganya sedikit bergoyang. Tiba di atas, getaran goyangannya bertambah. Sudah gitu, tidak ada pagar pengaman. Bikin saya membayangkan yang tidak-tidak. Dengan alasan, anak yang lincah dan berbahaya, saya mohon izin turun dari panggung. 

Ternyata ketakutan saya dengan ketinggian terus bertambah seiring penambahan berat badan. Ketika berempat berboncengan naik sepeda motor, lalu harus ke Lembang via Punclut atau ke Bandung lewat terminal Dago, saya mulai was-was.

Di Punclut, sudah berapa kali saya terpaksa turun dan nikreuh di tanjakan. Selain bawa badan sendiri, di depan saya memangku anak dan di belakang saya menggendong ransel. Untung tidak ada jinjingan di kedua tangan saya. Titik tanjakan tercuram itu ada di tanjakan yang ada patung naganya. Sudah lelah dan berkeringat, sampai di atas, Kinanti berkomentar, “Ambu, kok jalan? Naik motor aja!”

Kalau di Dago, baru semalam kejadian saya nikreuh di tanjakan karena tiba-tiba si X-ride pundung enggak mau naik di ujung perjalanan ke Dago. Itu kejadian pertama kalinya. Saya pun turun dan Kinanti panik. Dia menyangka Ambunya tidak akan ikut dengan dia. Saya, sambil menggendong Kiandra, ngos-ngosan mendaki. Mengingat sedang pake selop, tiap 10 langkah, saya berhenti menarik nafas panjang. 

Begitu sampai di atas, saya batuk-batuk sekuat tenaga. Cara yang enggak asyik berolahraga di malam hari. 

Kalau ibu-ibu lain, takut juga dengan tanjakan enggak, sih? ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s