Menua Sederhana


“Ingin menjadi seperti apa saat kita menua?”

Itu tema yang saya susun di #tantanganmenulis #julingeblog tanggal 12. Demi menjawab pertanyaan itu, saya harus berpikir jauh ke depan. Berpikir melampaui langkah-langkah 32 bidak di papan catur. Berpikir untuk puluhan tahun mendatang di mana Tuhan bermurah hati memberikan umur panjang. 

Sederhana sebenarnya jawaban pertanyaan itu. Saya harus lebih bermakna seiring pertambahan usia. Bermakna bagi diri saya sendiri utamanya. 

Di usia tua saya, ingin melihat anak-anak mampu mencapai keinginannya. Memiliki kehidupan yang ‘layak’ lahir dan batin. 

Saya ingin menua bersama suami saya. Berjalan pagi bersama sambil bergenggaman taman. Merawat kebun kecil di depan rumah. Memasak makanan yang menyenangkan perut. Sesekali pergi menonton ke bioskop. 

Di akhir pekan, ada anak-anak dan keturunannya yang menjenguk kami. Merencanakan liburan bersama. Atau sekadar membakar singkong di halaman rumah. Mungkin berkemah bersama. 

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bersama dengan keluarga. Jika berkaitan dengan keluarga, tidak heran kalau saya akan sangat egois. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s